Cerita Bersambung

Baca Cerita Bersambung terbaru yang seru dan menarik disini! - ethereal-horizon.blogspot.com.

Cerita Pendek

Baca Cerita Pendek terbaru yang seru dan asyik disini! - ethereal-horizon.blogspot.com.

Science Fiction

Baca kisah bergenre Fiksi Ilmiah disini! - ethereal-horizon.blogspot.com.com.

Supranatural

Jelajahi hal-hal yang berbau mistis! - ethereal-horizon.blogspot.com.com.

Light Novels

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Misteri. Show all posts
Showing posts with label Misteri. Show all posts

Sunday, April 2, 2017

Ecnahc Dnoces: Dendam



Moskow, 20 Maret 2012

Malam hari di awal bulan April, hari baru, kasus baru, omong kosong yang sama. Sedikit keberuntungan tidak seharusnya membuat Karpov sombong. Sedikit keberuntungan yang bisa membuatnya sedikit melacak keberadaan Polnareff. Tapi sekali lagi penjahat itu lebih licik darinya.

Hal lain yang menyebalkan adalah langit seperti hendak mengejeknya dengan hujan deras ini. Informan yang seharusnya datang tidak datang juga, ini sudah jam 12 malam. Kemana saja dia? Semua menjadi semakin jelas ketika Karpov mendapat pager dari temannya yang ada di kepolisian bahwa mereka menemukan informan Karpov berenang di teluk, hobi aneh. Dia yakin Polnareff sudah berhasil mengajak Informannya untuk menyelam..

Dia meraba ke kantong-kantong mantelnya yang basah kuyup, di keluarkan sekotak rokok yang basah kuyup. Dia mengumpat. Tidak adakah yang bisa lebih buruk dari ini. Di sebuah gang kecil di ujung kota, basah, dan tidak mendapat tempat berteduh kecuali pinggiran toko tutup yang melindunginya dari air hujan sama seperti berdiri di bawah shower.

Karpov lihat toko di sebelahnya menyala terang berwarna kuning. Seharusnya dia tak perlu berfikir dua kali untuk masuk ke sana. Namun dia sempat melihat papan nama dari neon yang berpijar terang berwarna merah. “Ecnahc Dnoces.” Nama yang aneh untuk sebuah toko, tapi terserahlah, Pikirnya. Dia akan masuk ke gubuk setan kalau perlu untuk menghindari hujan sialan ini.

Dia merasa ada yang aneh dari tempat ini, namun kakinya seperti bergerak sendiri ke arah sana.

Ketika Dia masuk dia melihat seorang perempuan manis, pakaiannya jelas-jelas berlebihan untuk seorang gadis muda. Jelas dia bukan wanita baik-baik, namun juga terlalu cantik untuk jadi seorang pelacur. Dan dia mengenakan pakaian Bunny girl berwarna hitam. Mungkin ini gaya pemasaran baru.

“Selamat malam” katanya “Selamat datang.”

“Kau punya Rokok!”

“Rokok?”

“Jadi kau tidak punya rokok?”

“Tuan, di sini bukan tempat spele...” Perempuan itu tersenyum menyeramkan.

Suara tepuk tangan terdengar dari seberang ruangan.

Clap*Clap

“Sopan sedikit pada tamu kita Visha, tentu saja kami punya rokok. Lagian, apa-apaan pakaian itu?”

Karpov menghela nafas lega, “Terimakasih, apa kau pemilik toko ini?”

“Ini bukan toko...”

“Bukan? Jadi kau pemilik tempat ini?”

“Sayang sekali bukan. Namaku Xeon dan aku hanya menjalankannya. Pemiliknya bukan aku. Setidaknya lepaskanlah topi itu Detektif Karpov, anda bisa masuk angin kalau tetap basah seperti itu.”

Karpov tidak tahu dari mana dia mengetahui namanya, namun anehnya dia tidak begitu penasaran. Pria bernama Xeon ini memakai pakaian jas hitam. Rambutnya disisir kelimis. Matanya dingin seperti membekukan. Dia bertubuh tinggi, namun wajahnya nampak muda. Entah berapa umurnya.

Pria itu membawa Karpov ke ruang di sebelahnya. Entah dari mana muncul sebuah pintu. Di dalamnya ada meja panjang, dia berdiri di balik meja itu. Di belakangnya ada rak berbagai macam benda aneh. Tengkorak dan buku-buku berdebu serta bejana-bejana.

“Jadi, tempat macam apa ini?”

“Bagus anda bertanya, kami di sini melakukan berbagai penukaran. Perhiasan, barang antik, hati, impian. Mata? ” kata pria bernama Xeon itu, entah kenapa suaranya yang dalam membuat Karpov mempercayainya. Perasaan aneh yang dirasakannya di awal masuk tempat ini semakin lama semakin kuat.

“Tempat yang aneh.”

“Ada yang berkata bahwa tempat ini dijalankan oleh Iblis, bagaimana menurut anda?”

“Tidak heran.”

“Anda tidak merasa takut?”

“Iblis, kurasa aku cukup mengenalnya. Mereka berjalan seperti manusia.”

Pria bernama Xeon menatap wajah Karpov. Selama bercakap-cakap Karpov melihat dia tidak merubah wajah ataupun cara berbicaranya.

“Pria yang unik, anda pasti juga punya permintaan unik.”

“Aku hanya ingin membeli rokok?”

“Selain rokok tentu saja. Apa anda tentu punya keinginan lain. Misalnya ketenaran, harta, atau... anda punya orang yang anda sayangi, anda tentu ingin membuatnya hidup...”

“Tidak berminat mengganggu orang yang sudah mati.”

“Jadi sekarang katakan apa permintaanmu, setiap orang punya permintaan.”

Karpov menghela nafas panjang, rasanya percuma menyembunyikan apapun dari orang ini. Detektif itu mengeluarkan sebuah foto dan meletakkannya di atas meja.

“Dia Mikhaila Romanoff, hilang dari rumahnya sehari yang lalu.”

“Bukan dia yang kau cari.”

“Maksudmu?”

“Kau tahu apa maksudku. Tapi baiklah, aku akan memberikan apa yang kau mau. Tapi ada bayarannya.”

“Sepuluh dolar,”

“Maaf. Harga itu masih kurang. Kau ingin memperpanjang nyawa gadis itu. Itu tidak murah.”

“Sepuluh dolar lima sen. Itu semua yang kupunya. Kau lihat aku pria miskin. Apa kau mau menukar dengan nyawaku. ”

“Nyawa? Aku tertarik dengan hal lain. Bagaimana dengan Liontin ini.”

Dia mencoba meraih liontin yang tergantung di leher Karpov..

“Maaf, aku tidak berniat menukarkannya. Ini hanya liontin tua.”

“Sebenarnya akan lebih mudah jika kau mau menukarnya. Benda ini nilainya lumayan setara dengan informasi yang kuberikan. Liontin ini penuh dengan goresan dan coretan. Kau benar ini hanya liontin tua, untuk apa mempertahankannya... Tapi aku tidak akan memaksa.”

Karpov menghela nafas panjang. Sebelum akhirnya berbicara...
"Tidak, aku masih punya sesuatu yang lebih menarik!"

–

Di luar masih hujan.

Segera sang Detektif melajukan mobil ke tempat persembunyian Polnareff. Menyelinap di gubuk tua persembunyiannya. Penjahat itu tidak sadar, ketika Karpov melewati pagar dan menyelinap ke pintu depan. Karpov segera mendobraknya. Begitu melihat Karpov, penjahat itu lari ke belakang. Langkah Karpov sempat terhenti untuk melepaskan gadis yang diikat oleh bajingan itu. Gadis itu baik-baik saja untung saja.

Karpov mengejarnya, sampai ke halaman. Beberapa tembakan membuat suasana daerah pinggiran itu ramai. Suara pistol terdengar seperti guntur yang teredam hujan. Dia terjatuh di jalan, tangannya memegang lututnya yang berdarah.

“Dari mana kau tahu tempat persembunyianku.”

“Seseorang memberitahuku. Dengan bayaran yang amat mahal.”

“Ka.. kau ingin membunuhku.”

Karpov menggerakkan jemarinya, namun tertahan di pelatuk.

“Ada apa?”

Karpov masih diam

“Ada apa? Kau tak ingin membunuhku. Kenapa kau jadi pengecut Detektif. Apa kau sudah lupa dengan apa yang kulakukan pada asistenmu Claudia.”

Masih membeku.

“Ini yang telah lama kau tunggu, mau apa lagi?”

“Biar polisi yang menangani semua ini Polnareff.”

Sang detektif menghembuskan napas panjang. Kini dia tidak bisa membunuhnya. Dia telah menukar hal paling berharga yang terus membuatnya hidup selama ini. Hal yang telah mengisi kekosongan dalam hidupnya. Hal itu adalah rasa Dendam.

Di belakang gadis yang telah dilepaskan ikatannya muncul. Dia kaget.

“Persetan Detektif,” Polnareff mengeluarkan pistol cadangannya.

Karpov masih tidak bisa menembak Polnareff. Tiba-tiba di saat-saat terakhir sebuah mobil bergerak cepat melindas penjahat itu. Menyeretnya beberapa meter dan mengoyak tubuhnya dalam hujan. Pengendaranya keluar dan segera berteriak nyaris pingsan. Jalanan berubah jadi merah, segera dihapus oleh hujan.

Tidak ada rasa puas, tidak ada rasa benci.

Yang ada hanya hampa.
_

Polisi berdatangan dari berbagai penjuru. Semuanya mengerubungi TKP, menenangkan pengemudi dan gadis yang diculik. Sekarang hujan mulai mereda. Semua sudah terjadi, Polnareff telah mati, Karpov tidak bisa membunuhnya. Setidaknya kejahatannya sudah sedikit terbayar. Perlahan rasa kosong itu terasa lebih kuat. Rasa kosong yang sebenarnya telah lama dia kenal. Mungkin lebih baik demikian.

Dia mengambil rokok yang di dapat dari Ecnahc Dnoces. Dia meraba jasnya mencari korek api, dia tidak menemukannya. Yang ada hanyalah kartu dari Ecnahc Dnoces.

“Untuk rokoknya bayarannya adalah korek apimu. – Datang lagi ya.”

“Dasar Sialan! Untuk apa rokok tanpa Korek.”


ARC BERAKHIR

Friday, March 31, 2017

Melihat Kematian



Dunia ini masih menyimpan banyak misteri didalamnya. Kehidupan, Kematian, dan Kekuatan adalah misteri-misteri yang ada diantara banyak misteri. Ngomong-ngomong soal kekuatan, ada berbagai macam jenisnya. Kau bisa mendapatkan salah satunya jika kau mau. Tapi ya, seperti yang aku katakan tadi, kau harus mencari misteri yang tersembunyi dari kekuatan itu. Tiga dari sepuluh orang manusia telah berhasil mengungkap misteri dari beberapa kekuatan yang ada di dunia ini.

Mereka yang memiliki kemampuan khusus tertentu itu terkadang menyembunyikan kemampuan yang mereka miliki dari orang lain, namun beberapa lainnya memanfaatkan kemampuan mereka untuk mendapatkan sebuah eksistensi.

Aku adalah salah satu dari golongan orang-orang yang memiliki kemampuan khusus itu. Berbeda dengan mereka, kemampuan yang kumiliki timbul karena kejadian yang kuharap tidak pernah terjadi dalam hidupku.

Sekitar dua bulan yang lalu, aku dan beberapa orang teman mengunjungi sebuah kuil yang sudah tak terjamah di tengah hutan, saat itu kami sedang beristirahat di sana setelah melakukan pendakian di Gunung. Salah seorang temanku yang mempunyai rasa keingintahuan tinggi, mengajak aku dan lainnya untuk memeriksa bagian dalam kuil. Awalnya kami menolak namun akhirnya kami menurutinya setelah ia memaksa untuk mengajak kami masuk ke dalam.

Keadaan di dalam kuil tidak begitu mengerikan, hanya sedikit kumuh dan berbau tidak sedap. Kami menelusuri satu demi satu ruangan di dalam kuil tersebut hingga kami sampai pada ruangan tengah. Ruangan itu cukup besar dan dekelilingi oleh beberapa patung berwujud manusia. Di antara patung-patung tersebut terdapat sebuah patung yang sangat besar, di tangannya terdapat sejenis lempengan besi berwarna keemasan. Aku dan teman-temanku berjalan mendekati patung tersebut dan kami menemukan sebuah buku tergeletak di atas lempengan emas itu.

Buku itu tidak tebal namun juga tidak begitu tipis, tulisan di dalamnya pun menggunakan aksara kuno. Aku tidak mengerti apa yang dituliskan dalam buku itu tapi salah seorang temanku bernama Toni mengerti dan menerjemahkannya kepada kami. Awalnya kami tertawa mendengar penjelasannya

“Hal semustahil itu tidak mungkin ada di dunia nyata” jawab temanku yang lainnya.

Toni terlihat kesal lalu ia membaca sebuah kalimat yang katanya merupakan sebuah mantra yang bisa membuat kita mampu melihat kematian seseorang sebelum itu terjadi.

“Baiklah siapa yang berani mengulanginya sebanyak tiga kali kalimat yang sudah kuucapkan, akan kuberikan semua uang yang ada didompetku” ucap Toni menantang kami.

Bisa dibilang Toni adalah temanku yang paling pelit, mendengarnya bertaruh seperti itu membuat teman-temanku yang lain mempercayai ucapannya tapi tidak denganku. Aku mengulurkan tangan kananku dan menjabat tangan Toni, “Oke Deal! Kalian semua saksinya ya?” ucapku sumringah.

Tiga hari telah berlalu sejak kajian di kuil itu, aku mulai merasakan hal-hal aneh, mendengar suara-suara yang selalu hilang ketika kucari dan hari itu pun datang. Sore itu aku bertemu dengan teman-temanku. Toni bertanya padaku apakah sesuatu hal telah terjadi dan saat aku hendak menjawabnya, tiba-tiba pandanganku terfokus pada kedua bola matanya, semua menjadi gelap dan hening, semakin dalam padanganku membawaku, aku dapat melihat secercah cahaya dan sebuah gambar yang dengan perlahan menjadi semakin jelas, itu adalah Toni, ia mengendarai motornya dengan sangat kencang dan sebuah truk terparkir tak jauh di hadapanya, Toni tak bisa mengurangi kecepatan motornya dan menghantam truk tersebut hingga badannya terpental dan mendarat pada aspal dengan kepalanya yang pecah bersimbah darah.

“Hei Den, kau baik-baik saja?”

Pandanganku kembali, Toni masih duduk di hadapanku dengan temanku yang lainnya.

“Aku baik, hei Ton berhati-hatilah sepulang nanti, jangan mengendarai motormu terlalu kencang” ucapku

Toni dan teman-temanku terlihat kebingungan dengan ucapanku, dan sepertinya Toni menyadari suatu hal di balik ucapanku. Wajah Toni terlihat memucat dan perlahan ia berkata “A...apa kau melihat kematianku?”. Aku mengangguk, mereka semua menjadi terdiam dan saling menatap.

Kami semua memutuskan untuk pulang bersama mendampingi Toni. Kami berkendara dengan sangat hati-hati dan perlahan, beberapa kendaran terdengar kesal dan membunyikan sirine mereka untuk menegur kami, namun kami lebih takut kematian Toni ketimbang wajah marah dan cacian kotor mereka.

Saat kami sampai di sebuah perempatan jalan, aku melihat truk itu, truk yang menjadi bagian dari kematian Toni. Aku berteriak dan memperingati Toni, Toni pun seketika menghentikan laju motornya namun sebuah Van hitam melaju dari arah belakang dan menghantan motor Toni, motor yang dikendarai Toni terdorong keras hingga menabrak bagian depan truk yang terparkir di hadapannya dan tubuh Toni terpental seperti dalam penglihatanku sebelumnya.

Para pejalan kaki dan pengendara yang berada di lokasi pun histeris dan berhamburan mendekati tubuh Toni yang sudah tak sadarkan diri. Aku dan semua temanku berlari meninggalkan kendaraan kami untuk memeriksa keadaan Toni, Toni telah tewas dan semua temanku menatapku dengan tatapan yang sangat dingin. Aku tak sanggup menyaksikan jasad Toni, “Apa yang terjadi? Aku tak melihat Van hitam itu dalam penglihatanku sebelumnya.” Pikirku, tubuhku perlahan menjauh akibat rasa bersalahku pada Toni dan sebuah hantaman keras kurasakan menyentuh tubuhku.

Saat kembali dari rumah sakit akibat kecelakaan yang kualami, aku berusaha memperbaiki hubunganku dengan semua temanku, aku menghampiri tempat yang biasa kami datangi untuk menghabiskan malam, namun sepertinya mereka sangat membenciku dan bahkan mengabaikanku. Aku selalu berusaha menyapa dan ikut berkumpul dengan mereka namun semua tetap sama, mereka tetap mengabaikanku seolah kematian Toni sepenuhnya merupakan perbuatanku.

Mereka harusnya tahu bahwa aku pun merasa kehilangan dan aku merasa sangat bersalah. Harusnya mereka mengerti dan tidak menjauhiku seperti ini, bahkan kematian Toni membuatku takut untuk melihat pantulan diriku, aku takut jika tanpa sengaja aku melihatnya maka gambaran akan kematianku akan muncul dan menghantuiku namun bahkan apa yang mereka lakukan kepadaku saat ini membuatku merasa bahwa aku telah menemukan kematianku itu.

Aku mulai mengurung diri di kamar sepanjang waktu, tidak bertemu dengan siapapun termasuk keluargaku, mereka pula tidak menghiraukan keberadaanku, tidak bertanya apa yang terjadi kepadaku. Sejak kejadian itu, duniaku benar-benar berubah. Aku mulai membenci kehidupanku yang menyedihkan ini, aku keilangan teman dan keluargaku karena kemampuan menakutkan yang kumiliki. Kemampuan ini membuatku merasa kesepian dan kehilangan.

Aku memutuskan untuk mengakhirinya hari ini, aku akan menjemput kematianku. Dengan tekad yang sudah bulat, aku berjalan menuju kamar mandi, memantapkan niatku untuk menatap pantulan wajahku agar aku dapat mengetahui bagaimana aku akan mati nanti. Kuhirup nafas dalam-dalam dan mengangkat kepalaku, perlahan kubuka kedua mataku yang masih ragu dengan keinginanku, namun berkali-kali aku membuka mataku, aku tetap tak dapat melihatnya, aku tak dapat melihat kematianku itu dan juga tak melihat pantulan diriku pada cermin di hadapanku itu.

Tiba-tiba aku teringat ucapan Toni saat mengutip sebuah kalimat dari buku kuno itu.
"Ini adalah cara untuk meminjam mata Sang Kematian. Dia akan memberikannya kepadamu, namun sebagai gantinya dia akan membawa JIWAMU."


END?

Monday, March 27, 2017

Sebuah Film Berjudul 'Tsumi'


Siang ini cuacanya terlihat agak mendung. Matahari tidak bersinar cerah seperti kemarin hari. Menurutku ada yang aneh dengan cuaca akhir-akhir ini. Sebentar-sebentar hujan deras, tapi besoknya matahari bersinar terang. Orang bilang, itu karena pemanasan global, ada juga yang tidak percaya pada pemanasan global. Kalau aku, percaya-percaya saja, tapi aku tidak terlalu banyak memikirkannya. Sebagai mahasiswa super-sibuk, yang aku pikirkan hanyalah masalah pelajaran. Sebagai mahasiswa super-sibuk, yang aku tunggu hanyalah akhir pekan!

Dan sekarang adalah akhir pekan. Bukan akhir pekan biasa, ini adalah awal dari hari libur yang berturut-turut. Besok hari Sabtu, kuliah libur. Hari Minggu sudah pasti libur. Hari Senin, Pak Dosen sudah bilang kalau dia tidak bisa datang, itu artinya libur tiga hari. Dan aku sudah mengerjakan semua tugas laporan, makalah, praktikum, dan segala antek-anteknya. Three days of freedom, yay!

Sepulang kuliah sore ini, aku berhenti di sebuah rental DVD yang tidak begitu terkenal di dekat tempat kost-ku: Watcher's DVD. Aku rasa pasti adalah ide yang bagus untuk menghabiskan hari libur dengan menonton film. Walau tempat rental ini terlihat besar, tapi harga sewanya sangat murah, dan tidak perlu mendaftar menjadi anggota segala. Sudah cukup sering aku menyewa film di tempat ini, dan aku menyadari kalau kebanyakan film yang disewakan di sini adalah copy bajakan. Tidak masalah buatku.

Tok! Tok!

Aku mengetuk pintunya sambil masuk ke dalam, rupanya sedang sepi, cuma Mbak Atiek yang menjaga counter.

“Mas Ray! Selamat sore!” ucapnya sambil tersenyum melihat kedatanganku.

Mbak Atiek adalah pemilik rental The Watcher. Sebenarnya Mbak Atiek menjalankan usaha ini berdua dengan Mas Rojib, kakaknya. Walau aku selalu memanggilnya dengan sebutan “Mbak”, sebenarnya ia seumuran denganku, hanya saja entah kenapa aku selalu merasa kalau ia lebih tua. Sedangkan Mas Rojib beberapa tahun lebih tua dariku, sepertinya sebentar lagi akan lulus kuliah. Mungkin ia sedang sibuk, makanya akhir-akhir ini jarang kelihatan.

“Mbak, ada film yang baru nggak?” tanyaku sambil melihat-lihat rak-rak DVD dan VCD.

“Ada, film horror mau?”

“Selain horror?”

“Hmm ... Pasal-Pasal Cinta?”

“Yah, itu mah udah basi! Film Indonesia yg lain ada yang baru?” Ia tampak memeriksa katalog yang ada di tangannya.

“Ada, beberapa. Yang ini nih, judulnya OD.”

“OD?” aku duduk di dekatnya sambil memperhatikan sampul film itu.

“Over Dosis.”

“Ceritanya tentang apa ya?”

"Yah ..., tentang pergaulan bebas, seks gitu Mas,” Mbak Atiek terlihat malu-malu, aku jadi geli sendiri.

“Ah, kayanya film murahan, paling cuma ikut-ikutan Antartican Pie gitu,” aku letakkan lagi sampul film itu,

“Yang lain ada nggak?”

“Ada nih, film religi, yang buatnya sutradara terkenal. Baru diputer di bioskop kok, judulnya Waria Berkalung Keset. Gimana?”

“Males ah, paling kaya sinetron.”

“Kalo yang ini? Judulnya Because of Love.”

“Judulnya aja udah norak, sok kebarat-baratan. Mendingan saya nyewa film barat aja deh sekalian,” ucapku sambil beralih ke rak-rak DVD bagian film barat.

Beberapa menit aku memilh-milih, akhirnya kuputuskan untuk menyewa lima judul film barat: dua film misteri, satu action, dan dua komedi. Segera kubawa sampul film-film itu ke Mbak Atiek di counter.

“Ini aja?” tanyanya.

“Iya, ini aja.”

Ia segera mencatat judul-judul film itu dan mengambilkan beberapa piringan dari sebuah lemari besar. Ia memasukkan piringan-piringan itu ke dalam sampul-sampul CD berwarna putih polos bertuliskan “The Watcher DVD”, kemudian meletakkan sampul aslinya kembali ke rak yang ada tulisan “Keluar”.

Setelah membayar, akupun pulang ke tempat kost sambil membawa lima keping DVD yang baru kusewa. Setelah meletakkan tas, aku segera meraih telepon genggam.

“Halo? Eh, Don. Ntar malem lo ada acara nggak? Gimana kalo ntar lo ajak anak-anak nonton DVD di kost-an gue? Apa? Bukan, bukan film Hentai. Oh, gitu. Jadi lo nggak bisa? Hah, kalo film Hentai bisa? Suek lo!!”

“Halo? Oi, Ben, ntar malem lo ada acara nggak? Gue rencananya mau ngajakin anak-anak nonton film di kost-an gue, gimana? Oh, lo udah ada janji ama cewek lo? Ya udah, nggak apa-apa. Si Dodon juga nggak mau tuh. Apa? Ngajak cewek gue aja? Males ah, kalo ketahuan Ibu Kost, bisa repot nanti.”

“Halo? Poltak ya? Lagi ngapain lo? Ntar malem nonton film yo! Di kost-an gue. Belom tau sih mau ngajak siapa aja, soalnya Dodon sama Beben katanya nggak bisa. Kalo lo gimana? Hah? Kerjaan? Kerjaan apaan? Besok kan libur. Bisnis? Bisnis apa? Em-El-E... Oh enggak deh. Makasih, kayanya gue nggak tertarik. Iya, bener. Eh sorry, HP gue udah low-bat nih. Bener kok. Kalo misalnya gue berubah pikiran pasti gue hubungin. Eh, dikit lagi mati nih. Udah dulu ya.”

“....”

“Halo, Dina. Lagi ngapain, Say? Oh, gitu. Nanti malem kamu ada acara nggak? Mmmm ... bukan sih, aku juga lagi males jalan keluar nih. Gimana kalo nonton film bareng-bareng aja? Bukan, bukan di bioskop, kan aku udah bilang kalo aku lagi males jalan. Ya di kost-an aku. Haaah ... kamu jangan mikir yang jelek-jelek dulu dong, film biasa kok, film action sama komedi. Sumpeh, bukan yang aneh-aneh. Iya, aku tau ini kosan cowok. Caranya? Ya, kamu kan tinggal nyamar jadi cowok,” ... tuut ... tuut ..., “halo? Dina?”

Dengan rasa kesal, aku langsung membanting handphone ku – ke atas kasur tentunya. Menyebalkan sekali kalau harus nonton film sendirian. Memang ini salahku juga, harusnya aku memastikan dulu apakah ada yang bisa diajak nonton atau tidak.

Kuambil kantong plastik berisi film-film yang tadi kusewa, kuperiksa satu persatu. Kira-kira yang mana yang akan kutonton lebih dulu ya? Tunggu dulu. Tiba-tiba saja perhatianku teralih pada satu keping DVD yang tampak aneh. Kuperhatikan label dan bagian bawahnya. Ini bukan salah satu DVD yang kusewa tadi. Kalau melihat dari labelnya, ini kan DVD RW yang biasa dipakai untuk merekam. Apa ini DVD bajakan yang lupa diberi label ya? Tapi di labelnya tertulis dengan spidol hitam, “Tsumi”. Seingatku aku tidak meminjam film yang berjudul “Tsumi”, pasti Mbak Atiek salah mengambil DVD. Kuperiksa judul-judul film yang lain, ternyata memang ada satu film yang kurang. Film laga berjudul “Forbidden Republic”, yang tadi kupilih tidak ada! Pasti tertukar dengan film ini. Makin menyebalkan saja.

Dengan terpaksa, tiga hari libur berturut-turut itu kuhabiskan untuk menonton film di kamar, sendirian. Film-filmnya memang lumayan seru dan menghibur, tapi aku malah merasa kesepian. Teman-temanku hampir semuanya sudah punya acara masing-masing. Sedangkan Dina, pacarku, masih ‘ngambek’ gara-gara kejadian di telepon, waktu aku menyuruh dia menyamar jadi laki-laki agar bisa masuk ke kamarku.

Hari Selasa pun tiba. Pulang kuliah, aku berencana untuk mengembalikan DVD yang kusewa. Memang, dari kelima film itu masih ada satu yang belum kutonton, yaitu film salah ambil itu. Selain karena tidak ada waku, aku juga tidak tertarik untuk menontonnya. Buat apa menonton film yang tidak kuinginkan? Kalau kuberitahu Mbak Atiek, mungkin aku boleh menukarnya dengan film lain, soalnya ini kan murni kesalahan dia.

Aku tiba di depan The Watcher Rental DVD. Tutup. Pintunya tertutup rapat, tak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya. Aneh sekali, tidak biasanya mereka tutup di hari kerja begini. Apa mungkin Mbak Atiek dan kakaknya sama-sama sedang sibuk, sehingga tidak ada yang menjaga counter? Ah, sudahlah. Karena ini bukan salahku, seharusnya aku tidak dikenakan denda. Akupun segera pulang, dan berniat untuk kesini lagi besok.

Esoknya, The Watcher masih tutup. Karena khawatir dikenai denda, aku mengecek tempat itu hampir setiap hari. Sampai sudah dua minggu berlalu, tak satu hari pun mereka buka. Apa mereka sudah pindah ya? Ataukah mereka bangkrut dan tidak bisa membayar sewa bangunan? Sebenarnya aku merasa tidak enak juga, tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak tahu nomor telepon salah satu dari mereka, aku juga tidak tahu bagaimana cara menghubungi mereka.

Dengan putus asa, kubiarkan saja film-film sewaan itu tergeletak di sudut kamar tanpa berusaha mengembalikannya. Bagaimanapun juga, ini bukan salahku, mereka pindah sebelum aku sempat mengembalikannya.

Beberapa minggu kemudian, saat hari libur dan cuaca di luar sana sedang hujan deras, aku tidak ada kerjaan dan hanya tidur-tiduran di kamar. Rasanya membosankan sekali, aku tidak tahu harus melakukan apa. Sambil memandangi langit-langit kamar, aku bersenandung kecil. Tiba-tiba tanpa sengaja tanganku menyenggol setumpuk DVD di samping tempat tidurku. Aku memeriksa benda-benda itu. Film-film dari The Watcher yang belum aku kembalikan sampai sekarang. Kuambil salah satu keping DVD itu. Oh iya, film berjudul “Tsumi” ini kan belum sempat aku tonton. Walau rasanya aku tidak bergairah sama sekali untuk menontonnya, tapi aku segera bangkit dan menyalakan komputer. Daripada tidak ada kerjaan, pikirku. Siapa tahu ini DVD pribadi milik Mbak Atiek? Aku tertawa geli sambil mulai berpikir agak ngeres.

Kumasukkan DVD aneh itu, dan kubuka program Media Player di komputerku. Kutekan tombol “Play” di monitor dengan menggunakan mouse. Beberapa detik kemudian, sesuatu yang ada di dalam DVD itu pun mulai muncul di hadapanku.

Mataku terbelak, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhku.

Sementara jantungku serasa berhenti berdetak, kepalaku terasa pusing bukan main. Ini benar-benar tidak masuk akal!

Hujan deras mengguyur jalanan dan membasahi tubuhku. Seminggu yang lalu aku menghilangkan payungku, dan kini aku harus berlari di tengah derasnya tikaman hujan. Rambut dan pakaianku basah kuyup, sementara tanganku berusaha melindungi sebuah DVD yang kubungkus di dalam plastik. Aku berlari secepat mungkin, dengan ketakutan yang luar biasa, ke arah rental DVD The Watcher. Aku harus mendapat penjelasan atas semua ini. Ini adalah hal paling menakutkan yang pernah kualami dalam hidupku.

TOK! TOK! TOK!

Kuketuk pintu The Watcher. Walau tempat itu terlihat tutup dan kosong, aku tak peduli, aku harus mencobanya dulu. Kuketuk lagi beberapa kali, tetap tak ada jawaban.

“Mbak Atiek! Mas Rojib!” aku berteriak sekeras mungkin, siapa tahu salah satu dari mereka ada di dalam.Tetap tak ada jawaban apapun dari dalam. Tak ada suara apapun selain suara hujan yang menghantam jalanan yang sepi.

Tubuhku terasa lemas, nafasku terengah-engah karena berlari tadi. Kuusap wajahku yang basah oleh air hujan, pelan-pelan aku terduduk di depan pintu itu. Kutatap DVD di balik kantong plastik yang kubawa. Tatapanku menjadi kosong, ada air yang menetes dari kedua mataku. Apakah itu air hujan? Ataukah air mata? Kalau itu air mata, apakah artinya aku menangis? Menangis karena apa? Karena takut? Karena malu? Karena bingung?

Sesaat setelah kutekan tombol “Play”, sesuatu yang tak pernah terbayangkan muncul di layar komputerku. Memang, seperti dugaanku, film berjudul “Tsumi” itu adalah sebuah film rekaman pribadi. Saat gambar pertama muncul, aku pun dapat meyakini kalau film itu diambil dengan menggunakan handycam, bahkan tanggal dan jam pengambilan gambarnya pun masih tercantum di layar. Tapi, kengerian yang sebenarnya baru muncul ketika aku menyadari siapa manusia yang menjadi objek di film itu.

Yang pertama kali kulihat di layar adalah ... aku. Ya, maksudku aku benar-benar ada di layar! Aku ‘ada’ di dalam film itu! Di dalam film itu aku berada di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, dan tak perlu waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa tempat itu adalah kamar kost-ku sendiri. Bedanya, kamarku yang ada di film itu terlihat masih rapi dan agak kosong. Aku ingat! Ini adalah saat aku baru pindah ke tempat ini! Sesaat setelah orangtuaku pergi, dan aku tinggal sendirian. Kulihat apa yang aku lakukan di dalam film itu. Aku mengambil setumpuk majalah porno yang kusembunyikan di dalam kardus, dan kuletakkan di atas lemari.

Adegan berpindah, tanggal dan waktu yang tertera di layar pun ikut berubah. Kini yang aku saksikan adalah sosok aku yang sedang asik menonton film biru di depan komputer di dalam kamar, sendirian. Aku masih ingat kejadian itu, sudah agak lama juga. Film biru itu masih kusimpan sampai sekarang.

Bukan saatnya mengingat hal itu! Ini menakutkan! Seseorang merekam kegiatanku di dalam kamar! Kuamati sudut pengambilan gambar di film itu, aku tahu dari mana film ini direkam. Pasti seseorang memasang kamera tersembunyi di kamar ini! Tanpa menghentikan film, aku segera melompat ke atas kasur, memeriksa sisi atas dinding yang dihimpit oleh lemari pakaian. Kalau melihat sudut pengambilan gambar di film, aku yakin di sinilah kamera tersembunyi itu seharusnya terpasang. Kuamati tempat di sekitar dinding itu, aku tak menemukan suatu benda apapun yang mencurigakan, hanya sebuah noda hitam di dinding seperti bekas terbakar.

Aku menoleh lagi ke layar komputer, ke arah film yang masih berlanjut. Tiba-tiba saja kakiku lemas, seluruh tubuhku merinding. Ternyata ‘pengawasan’ itu bukan hanya terjadi di kamarku saja! Tampaknya seseorang mengikutiku dan merekam setiap kelakuan burukku!

Adegan yang kulihat di monitor sekarang adalah aku yang berada di teras sebuah rumah. Aku tahu, ini adalah rumah Dina. Aku duduk di sebelah Dina dan merangkul pundaknya. Beberapa saat kemudian terlihat adegan aku berusaha mencium bibir gadis itu. Dina menolak. Ya, aku masih ingat dengan jelas kejadian waktu itu. Watku itu aku datang ke rumah Dina saat kedua orangtuanya sedang tidak ada di rumah, dan aku lepas kendali, mencoba memanfaatkan keadaan. Terlihat adegan saat aku berusaha merayu Dina. Aku terduduk lemas melihat tayangan itu. Ada bagian di dalam diriku yang merasa malu menyaksikannya.

Beberapa detik kemudian, adegan berpindah lagi. Kali ini di sebuah tempat parkir yang sepi, hanya ada aku di antara barisan sepeda motor. Terlihat aku berjongkok di samping sebuah sepeda motor berwarna merah. Aku mengeluarkan sebuah paku besar dan menusukkannya ke ban sepeda motor itu. Aku ingat, itu adalah sepeda motor Vandy. Waktu itu aku cemburu pada Vandy karena ia ingin merebut Dina dariku, maka sepulang kuliah aku mengempesi ban sepeda motornya.

Adegan berubah lagi. Masih di tempat parkir, namun kini di tempat parkir mobil. Terlihat aku mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku celanaku, lalu aku menggoreskan pisau itu ke sebuah mobil berwarna hitam, membuat sebuah goresan yang dalam dan panjang melintasi bagian samping tubuh mobil itu. Itu adalah mobil Pak Galuh, salah seorang dosen di kampusku. Waktu itu adalah akhir semester, aku marah karena ia menuduhku sering membolos, padahal aku sudah memberikan surat izin sakit, tapi ia malah mengira kalau surat itu palsu. Akhirnya aku tidak lulus di mata kuliah itu, dan aku balas dendam dengan merusak mobilnya.
Sekali lagi adegan berganti, memperlihatkan aku yang sedang bersama teman-temanku.

“Cukup!” aku berteriak sendirian seperti orang kesetanan.

Aku segera meraih mouse dan menekan tombol “Stop”. Film itu berhenti. Aku tidak tahan lagi melihat semua ini, amat menakutkan. Keringat dingin membasahi tubuhku ketika aku mengeluarkan DVD itu dan mematikan komputer.

Hujan deras tak juga mau berhenti. Hujan itu amat deras, seakan merayakan ketakutan dan ketidakberdayaanku saat ini. Aku masih terduduk lemas di depan pintu The Watcher yang masih juga belum menunjukkan tanda-tanda akan terbuka. Kali ini aku sudah dapat memastikan kalau yang mengalir di pipiku ini adalah air mata. Kugunakan tanganku untuk menyekanya. Aku harus tetap tenang dan berpikir rasional, pikirku.

Kira-kira siapa yang bisa merekam segala aktivitasku seperti itu? Apakah satelit? Tapi apa iya, satelit bisa melihat menembus tembok? Lagipula jelas-jelas kalau itu adalah rekaman handycam. Atau mungkin ada seorang mata-mata profesional yang dapat memasang kamera tersembunyi di dalam kamarku, dan mengikuti gerak-gerikku sambil menenteng handycam? Tapi untuk apa? Aku kan bukan penjahat yang harus dimata-matai? Atau mungkin ... wartawan? Oh iya, mungkin paparazzi? Mustahil! Aku bukan selebritis!

Setiap kemungkinan yang aku pikirkan tampak tidak masuk akal. Di tengah kebingunganku, aku teringat kata-kata ibuku ketika aku masih kecil dulu.

“Nanti ya, Ray, di akhirat semua orang bakal dikasih liat semua perbuatan dosanya,” ucap ibuku kepadaku yang waktu itu masih SD.

“Dikasih liat, maksudnya gimana, Ma?” tanyaku.

Aku ingat, waktu itu aku sedang persiapan ujian pelajaran Agama di sekolah, ibuku bercerita macam-macam.

“Iya, dikasih liat. Di akhirat ada layar besar lho, kaya di bioskop. Terus orang itu bakal disuruh nonton jadinya dia nggak bisa bohong lagi.”

“Lho, kok bisa? Emangnya siapa yang ngerekam filmnya, Ma?”

“Ya ampun, Ray, gimana mau dapat nilai bagus nih ujiannya? Masa gitu aja kamu lupa? Kan udah Mama ceritain, kalau di samping kanan dan kiri setiap orang itu, ada malaikat yang selalu mengawasi dan mencatat perbuatan kita!”
JGERR!!!
Sebuah suara halilintar yang amat keras memecah lamunan tentang masa kecilku. Aku kembali tersadar, kini aku ada di depan pintu The Watcher yang tak juga terbuka. Hujan masih terus turun. Apakah aku duduk terdiam di sini untuk menunggu hujan sampai reda? Ataukah aku duduk terdiam karena terlalu lemas untuk berdiri?

Tiba-tiba seorang ibu-ibu berpayung berhenti di depan teras bangunan itu. Tampaknya ia heran melihatku yang berada di sini dengan pakaian yang basah kuyup.

“Dik, nyari siapa? Nyari Mbak Atiek ya?”

Aku berusaha untuk bangkit dan menjawab pertanyaan ibu itu, “Iya, Bu. Ibu tau sekarang Mbak Atiek atau Mas Rojib ada dimana?”

“Saya juga nggak tau. Mereka nggak bilang pindah kemana. Kata anak-anak yang suka nongkrong di deket sini sih, rental ini udah disewa orang lain dan sebentar lagi mau dijadiin rumah makan.”

Aku nyaris putus asa mendengarnya. Ternyata percuma saja aku bolak-balik ke tempat ini, aku tak akan menemukan mereka di sini.

Beberapa menit setelah ibu itu pergi, hujan mulai reda dan hanya menyisakan gerimis. DVD “Tsumi” itu masih kupegang erat di balik kantong plastik yang basah. Di dalam hatiku, ada keinginan untuk mencari keberadaan Mbak Atiek dan Mas Rojib. Mungkin saja mereka tahu asal-usul rekaman ini.

Aku melangkah keluar dan berniat kembali ke tempat kost. Genangan air menghiasi setiap langkah kakiku. Hujan sudah berhenti sekarang, tapi langit masih mendung. Saat itulah mereka berdua muncul. Ya, mereka adalah Mas Rojib dam Mbak Atiek. Wajah mereka terlihat datar dan tidak enak untuk dipandang. Entah kenapa kaki ku terasa bergerak sendiri - membuatku mundur beberapa langkah kebelakang dengan tak teratur - aku pun terjatuh.

"Apa kau sudah mengakuinya?" mereka berbicara bersamaan.

"A-Apa maksudnya ini?" Suaraku terdengar gemetar, namun sebenarnya aku mencoba berteriak kepada mereka.

"Rayhan Maulana... Apa kau lupa?"

Lagi-lagi mereka berbicara bersamaan, kini suara mereka mulai bergema di pikiranku.  Berbagai gambaran aneh bermunculan didalam kepalaku seiring gema suara itu. Entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak untuk mendengar kalimat selanjutnya. Jadi, Aku menutup kedua telinga dan terus meneriakan kata "Diam!". Namun mereka tampak tak perduli. Aku sudah tahu apa yang hendak mereka katakan, sebelum akhirnya mereka sendiri yang mengatakannya...

"Kau sudah mati."


http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html