Cerita Bersambung

Baca Cerita Bersambung terbaru yang seru dan menarik disini! - ethereal-horizon.blogspot.com.

Cerita Pendek

Baca Cerita Pendek terbaru yang seru dan asyik disini! - ethereal-horizon.blogspot.com.

Science Fiction

Baca kisah bergenre Fiksi Ilmiah disini! - ethereal-horizon.blogspot.com.com.

Supranatural

Jelajahi hal-hal yang berbau mistis! - ethereal-horizon.blogspot.com.com.

Light Novels

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Cerita Bersambung. Show all posts
Showing posts with label Cerita Bersambung. Show all posts

Friday, May 26, 2017

Smile For Me (Episode 1)



Smile For Me

Manusia memiliki mimpi.
Ada yang mengejar dan mewujudkannya,
ada yang mundur dan membuangnya,
ada pula yang diam dan hanya menyimpannya selama sisa hidupnya.
Jika itu Luna Prisha, mungkin dia adalah tipe yang terakhir.

First

Hari ini memiliki cuaca yang cerah dengan mentari yang menyebarkan kehangatan melalui udara, pohon-pohon sedikit bergerak karena tertiup angin pagi, menambah sejuk udara yang dihirup setiap orang. Walau sebenarnya, udara di Ibukota ini sudah tercemar oleh polusi.
Kondisi jalan sudah ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki. Kau bisa melihat segerombolan anak-anak SD pergi ke sekolah bersama-sama, juga banyak orang-orang berpakaian rapi terduduk di bangku sebuah Halte dengan wajah tidak sabar.
Pukul 06.50 di depan sebuah sekolah, seorang gadis berseragam abu-abu terlihat  turun dari sebuah mobil sport. Dia berbicara sebentar kepada pengemudi mobil itu, wajahnya tampak seperti sedang merajuk. Beberapa saat kemudian mobil itu pergi, gadis itu berjalan santai memasuki gerbang sekolah. Nama ‘SMA Harapan Negeri’ terukir di atas sana. Dia mendatangi Pos Security dan berbicara dengan salah seorang petugas yang sedang berjaga saat itu. Rupanya dia ingin diantar ke ruang guru karena ia tidak tahu letaknya. Hal itu mengungkapkan bahwa dia bukanlah salah satu murid dari sekolah ini. Mungkin saja dia murid pindahan atau semacamnya.
Sambil merapikan rambutnya yang diikat “Twintail” ia berjalan mengikuti petugas Secutity, wajahnya ia tundukkan ke bawah sambil sesekali memandang ke arah depan, bibirnya ia kerutkan secara gugup, tangannya menggenggam tali tas berwarna hitam yang ia gantungkan di bahu sebelah kiri. Ia memeriksa seragamnya untuk memastikan kalau penampilannya sudah benar-benar rapih.
Ahh, padahal hanya menuju ke ruang guru, tapi aku sudah gugup sampai seperti ini. Mungkin itulah yang dipikirkannya saat itu.



Keadaan di luar gedung sekolah sudah mulai sepi, sepertinya jam pelajaran baru saja dimulai. Gadis itu kini berada di depan sebuah kelas bersama dengan seorang wanita berpakaian rapi dan berkacamata, tertera angka 12-3 di pintunya, mungkin ini menjadi kelas yang akan ia tempati di sekolah ini.  Suara gaduh yang terdengar dari luar kelas mendadak berhenti ketika sosok wanita berkacamata itu memasuki ruangan. Ia meletakan beberapa buku diatas meja, kemudian menatap seisi kelas dengan wajah serius. Dilihat dari penampilannya, kau bisa tahu kalau dia adalah guru sekaligus wali kelas kami. Namanya adalah Bu Anggun.
Sambil membetulkan kacamatanya Bu Anggun mulai berbicara, “Anak-anak sekalian, hari ini kita kedatangan murid baru, dia mulai mengikuti pelajaran di kelas kita hari ini juga.”
“Murid barunya Pria atau Wanita, Bu?” celetuk salah seorang murid laki-laki, sontak seisi kelas menyorakinya sehingga suasana kembali ramai.
“Harap tenang anak-anak sekalian, kalian akan punya kesempatan untuk berkenalan dengannya nanti.”
Kemudian Bu Anggun mempersilahkan gadis itu untuk masuk ke dalam kelas. Dia berjalan masuk ke dalam kelas diikuti dengan pandangan semua penghuni kelas yang penasaran. Betapa terlihat tegang dan gugup dia ketika berdiri di depan papan tulis saat itu. Dia berdiri dengan tangan saling menggenggam rapi ketika cahaya matahari menyinari wajahnya yang kemerahan melalui jendela kelas. Rambut hitam sebahu yang ia ikat 'Twintail' tampak mengkilap, kulit putihnya tampak terang meski dibalut dengan seragam SMA-nya. Wajahnya yang blasteran Asia-Australia terlihat imut membuat seisi kelas terdiam, seolah melihat sosok malaikat di hadapan mereka. 
“Tolong perkenalkan namamu dan asal sekolah kamu,” perintah Bu Anggun dengan nada tegas.
Matanya yang tidak berkedip terbuka lebar dan melihat ke satu titik di depannya. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai berbicara, “Hallo teman-teman, perkenalkan nama ku Luna Prisha, nama panggilan ku “Una”, saya murid pindahan dari Australia.”
“Hallo juga Una, boleh aku minta Nomor mu?” lagi-lagi salah seorang murid laki-laki menyeletuk, sehingga seisi kelas menyorakinya, namun kali ini suara para siswi lah yang terdengar paling jelas. Bu Anggun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah murid-muridnya. Sementara Luna memaksakan senyum sebagai cara untuk menahan rasa malunya.
“Silahkan kamu duduk di kursi yang kosong itu,” perintah Bu guru.
“Baik, Bu.” Luna menjawab, lalu berjalan menuju kursi yang ditunjuk Bu guru. Ia duduk di barisan kedua dari meja guru, di kursi urutan kedua dari belakang yang berjarak satu baris dari jendela. Di sampingnya sudah ada seorang gadis. Luna sangat lega karena mendapatkan teman duduk yang sejenis.  
 “Hai Una,” gadis itu menyapa, “Namaku Dina, salam kenal ya.”
Mereka berjabat tangan disambut dengan senyuman hangat dari keduanya.
“Kamu beneran dari Australia?” Dina bertanya padaku.
“Iya, aku bersekolah disana dari SD sampai SMP. Karena suatu alasan, aku pindah ke Jakarta pada tahun ketiga SMA, dan bersekolah disini.” Luna menjelaskan.
“Oh, kenapa kamu memilih sekolah ini?” Dina bertanya lagi
“Tidak ada alasan khusus. Hanya saja, sekolah ini letaknya yang paling dekat dengan rumah ku.” Luna menjawab.
“Oh, begitu. Luna, semoga nanti kita bisa akrab ya,” Dina tersenyum tipis, “Ups,  lebih baik sekarang kita perhatikan Bu guru yang mulai mengajar, atau kita akan kena masalah.”

Pelajaran pertama pun dimulai, semua murid di kelas bersikap serius sambil memperhatikan Bu Anggun yang sedang menerangkan materi. Namun belum lima menit berlalu, terdengar suara seseorang mengetuk pintu kelas. Bu Anggun serta semua murid di kelas menoleh ke arah pintu, di sana tampak seorang siswa yang sepertinya datang terlambat, wajahnya terlihat muram seperti orang depresi dan kelopak matanya sedikit menghitam seperti orang yang kurang tidur. Dia berjalan menghadap Bu Anggun dan meminta maaf atas keterlambatannya. Bu Anggun pun memaafkannya dan mempersilahkannya duduk, lalu kembali menerangkan materi pelajaran. Ia berjalan menuju kursi paling belakang didekat jendela kelas, yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat Luna.
Luna memperhatikan murid yang terlambat itu dengan sedikit rasa tertarik, mata mereka tiba-tiba bertemu, membuat Luna terkejut sekaligus merinding. Memang sorot mata yang tajam dan menakutkan, namun terlihat kosong.
Huuwaa.... menyeramkan sekali orang itu. Luna berbicara di dalam hati.  Kemudian Luna berbisik kepada Dina, “Erm, Dina. Siapa siswa yang tadi datang terlambat?” tanya Luna.
“Ah dia ya, dia itu... Namanya Rio,” Dina menjawab.
“Rio ya... Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Kenapa wajahnya seperti orang depresi begitu?” Luna kembali bertanya.
Dina tidak langsung menjawab, “Yah, dia sudah seperti itu akhir-akhir ini. Padahal sebelumnya dia itu merupakan orang yang ceria, pandai dalam pelajaran dan juga olahraga. Namun semuanya berubah sekitar dua bulan yang lalu. Keluarganya mengalami kecelakaan fatal saat liburan akhir semester,” Dina berhenti sejenak untuk menarik nafas, “Peristiwa itu telah menyebabkan Ibunya meninggal dunia. Kemudian Rio berubah menjadi seperti sekarang ini.”
“Jadi begitu ya,” Luna mengangguk paham dan kembali bertanya, “Hm, Dina. Apa sebelumnya kamu akrab dengannya?”
“Entahlah, sebenarnya aku tinggal di sebelah rumahnya.” Dina berbisik pelan.
Luna menjadi sedikit tertarik setelah mendengar cerita Dina, gadis itu memainkan rambutnya sambil memikirkan sesuatu.

Bel tanda Istirahat pun berbunyi. Tanpa disadari, Dina sudah menghilang dari tempat duduknya. Ehhhh... sejak kapan dia menghilang? Luna berbicara dalam pikirannya. Beberapa saat kemudian, tempat duduk Luna sudah ramai dikerumuni seluruh murid di kelasnya.  Yah, beginilah nasib murid baru di hari pertama mereka bersekolah. Mereka yang mengerumuni gadis itu menanyakan berbagai macam hal mengenai dirinya atau mengenai tempat dia tinggal dulu. Sungguh melelahkan menjawab pertanyaan mereka satu persatu. Parahnya, hal itu berlangsung selama jam istirahat, Lala membuat Luna tidak sempat memakan bekal makan siangnya.
Jadi, itulah mengapa Dina menghilang tepat setelah bel istirahat berbunyi. Ia tahu kejadiannya akan seperti ini, dan dia memilih untuk melarikan diri.
Jahat sekali, benar-benar tidak bertanggung jawab!


Bersambung...

Sunday, April 2, 2017

Ecnahc Dnoces: Dendam



Moskow, 20 Maret 2012

Malam hari di awal bulan April, hari baru, kasus baru, omong kosong yang sama. Sedikit keberuntungan tidak seharusnya membuat Karpov sombong. Sedikit keberuntungan yang bisa membuatnya sedikit melacak keberadaan Polnareff. Tapi sekali lagi penjahat itu lebih licik darinya.

Hal lain yang menyebalkan adalah langit seperti hendak mengejeknya dengan hujan deras ini. Informan yang seharusnya datang tidak datang juga, ini sudah jam 12 malam. Kemana saja dia? Semua menjadi semakin jelas ketika Karpov mendapat pager dari temannya yang ada di kepolisian bahwa mereka menemukan informan Karpov berenang di teluk, hobi aneh. Dia yakin Polnareff sudah berhasil mengajak Informannya untuk menyelam..

Dia meraba ke kantong-kantong mantelnya yang basah kuyup, di keluarkan sekotak rokok yang basah kuyup. Dia mengumpat. Tidak adakah yang bisa lebih buruk dari ini. Di sebuah gang kecil di ujung kota, basah, dan tidak mendapat tempat berteduh kecuali pinggiran toko tutup yang melindunginya dari air hujan sama seperti berdiri di bawah shower.

Karpov lihat toko di sebelahnya menyala terang berwarna kuning. Seharusnya dia tak perlu berfikir dua kali untuk masuk ke sana. Namun dia sempat melihat papan nama dari neon yang berpijar terang berwarna merah. “Ecnahc Dnoces.” Nama yang aneh untuk sebuah toko, tapi terserahlah, Pikirnya. Dia akan masuk ke gubuk setan kalau perlu untuk menghindari hujan sialan ini.

Dia merasa ada yang aneh dari tempat ini, namun kakinya seperti bergerak sendiri ke arah sana.

Ketika Dia masuk dia melihat seorang perempuan manis, pakaiannya jelas-jelas berlebihan untuk seorang gadis muda. Jelas dia bukan wanita baik-baik, namun juga terlalu cantik untuk jadi seorang pelacur. Dan dia mengenakan pakaian Bunny girl berwarna hitam. Mungkin ini gaya pemasaran baru.

“Selamat malam” katanya “Selamat datang.”

“Kau punya Rokok!”

“Rokok?”

“Jadi kau tidak punya rokok?”

“Tuan, di sini bukan tempat spele...” Perempuan itu tersenyum menyeramkan.

Suara tepuk tangan terdengar dari seberang ruangan.

Clap*Clap

“Sopan sedikit pada tamu kita Visha, tentu saja kami punya rokok. Lagian, apa-apaan pakaian itu?”

Karpov menghela nafas lega, “Terimakasih, apa kau pemilik toko ini?”

“Ini bukan toko...”

“Bukan? Jadi kau pemilik tempat ini?”

“Sayang sekali bukan. Namaku Xeon dan aku hanya menjalankannya. Pemiliknya bukan aku. Setidaknya lepaskanlah topi itu Detektif Karpov, anda bisa masuk angin kalau tetap basah seperti itu.”

Karpov tidak tahu dari mana dia mengetahui namanya, namun anehnya dia tidak begitu penasaran. Pria bernama Xeon ini memakai pakaian jas hitam. Rambutnya disisir kelimis. Matanya dingin seperti membekukan. Dia bertubuh tinggi, namun wajahnya nampak muda. Entah berapa umurnya.

Pria itu membawa Karpov ke ruang di sebelahnya. Entah dari mana muncul sebuah pintu. Di dalamnya ada meja panjang, dia berdiri di balik meja itu. Di belakangnya ada rak berbagai macam benda aneh. Tengkorak dan buku-buku berdebu serta bejana-bejana.

“Jadi, tempat macam apa ini?”

“Bagus anda bertanya, kami di sini melakukan berbagai penukaran. Perhiasan, barang antik, hati, impian. Mata? ” kata pria bernama Xeon itu, entah kenapa suaranya yang dalam membuat Karpov mempercayainya. Perasaan aneh yang dirasakannya di awal masuk tempat ini semakin lama semakin kuat.

“Tempat yang aneh.”

“Ada yang berkata bahwa tempat ini dijalankan oleh Iblis, bagaimana menurut anda?”

“Tidak heran.”

“Anda tidak merasa takut?”

“Iblis, kurasa aku cukup mengenalnya. Mereka berjalan seperti manusia.”

Pria bernama Xeon menatap wajah Karpov. Selama bercakap-cakap Karpov melihat dia tidak merubah wajah ataupun cara berbicaranya.

“Pria yang unik, anda pasti juga punya permintaan unik.”

“Aku hanya ingin membeli rokok?”

“Selain rokok tentu saja. Apa anda tentu punya keinginan lain. Misalnya ketenaran, harta, atau... anda punya orang yang anda sayangi, anda tentu ingin membuatnya hidup...”

“Tidak berminat mengganggu orang yang sudah mati.”

“Jadi sekarang katakan apa permintaanmu, setiap orang punya permintaan.”

Karpov menghela nafas panjang, rasanya percuma menyembunyikan apapun dari orang ini. Detektif itu mengeluarkan sebuah foto dan meletakkannya di atas meja.

“Dia Mikhaila Romanoff, hilang dari rumahnya sehari yang lalu.”

“Bukan dia yang kau cari.”

“Maksudmu?”

“Kau tahu apa maksudku. Tapi baiklah, aku akan memberikan apa yang kau mau. Tapi ada bayarannya.”

“Sepuluh dolar,”

“Maaf. Harga itu masih kurang. Kau ingin memperpanjang nyawa gadis itu. Itu tidak murah.”

“Sepuluh dolar lima sen. Itu semua yang kupunya. Kau lihat aku pria miskin. Apa kau mau menukar dengan nyawaku. ”

“Nyawa? Aku tertarik dengan hal lain. Bagaimana dengan Liontin ini.”

Dia mencoba meraih liontin yang tergantung di leher Karpov..

“Maaf, aku tidak berniat menukarkannya. Ini hanya liontin tua.”

“Sebenarnya akan lebih mudah jika kau mau menukarnya. Benda ini nilainya lumayan setara dengan informasi yang kuberikan. Liontin ini penuh dengan goresan dan coretan. Kau benar ini hanya liontin tua, untuk apa mempertahankannya... Tapi aku tidak akan memaksa.”

Karpov menghela nafas panjang. Sebelum akhirnya berbicara...
"Tidak, aku masih punya sesuatu yang lebih menarik!"

–

Di luar masih hujan.

Segera sang Detektif melajukan mobil ke tempat persembunyian Polnareff. Menyelinap di gubuk tua persembunyiannya. Penjahat itu tidak sadar, ketika Karpov melewati pagar dan menyelinap ke pintu depan. Karpov segera mendobraknya. Begitu melihat Karpov, penjahat itu lari ke belakang. Langkah Karpov sempat terhenti untuk melepaskan gadis yang diikat oleh bajingan itu. Gadis itu baik-baik saja untung saja.

Karpov mengejarnya, sampai ke halaman. Beberapa tembakan membuat suasana daerah pinggiran itu ramai. Suara pistol terdengar seperti guntur yang teredam hujan. Dia terjatuh di jalan, tangannya memegang lututnya yang berdarah.

“Dari mana kau tahu tempat persembunyianku.”

“Seseorang memberitahuku. Dengan bayaran yang amat mahal.”

“Ka.. kau ingin membunuhku.”

Karpov menggerakkan jemarinya, namun tertahan di pelatuk.

“Ada apa?”

Karpov masih diam

“Ada apa? Kau tak ingin membunuhku. Kenapa kau jadi pengecut Detektif. Apa kau sudah lupa dengan apa yang kulakukan pada asistenmu Claudia.”

Masih membeku.

“Ini yang telah lama kau tunggu, mau apa lagi?”

“Biar polisi yang menangani semua ini Polnareff.”

Sang detektif menghembuskan napas panjang. Kini dia tidak bisa membunuhnya. Dia telah menukar hal paling berharga yang terus membuatnya hidup selama ini. Hal yang telah mengisi kekosongan dalam hidupnya. Hal itu adalah rasa Dendam.

Di belakang gadis yang telah dilepaskan ikatannya muncul. Dia kaget.

“Persetan Detektif,” Polnareff mengeluarkan pistol cadangannya.

Karpov masih tidak bisa menembak Polnareff. Tiba-tiba di saat-saat terakhir sebuah mobil bergerak cepat melindas penjahat itu. Menyeretnya beberapa meter dan mengoyak tubuhnya dalam hujan. Pengendaranya keluar dan segera berteriak nyaris pingsan. Jalanan berubah jadi merah, segera dihapus oleh hujan.

Tidak ada rasa puas, tidak ada rasa benci.

Yang ada hanya hampa.
_

Polisi berdatangan dari berbagai penjuru. Semuanya mengerubungi TKP, menenangkan pengemudi dan gadis yang diculik. Sekarang hujan mulai mereda. Semua sudah terjadi, Polnareff telah mati, Karpov tidak bisa membunuhnya. Setidaknya kejahatannya sudah sedikit terbayar. Perlahan rasa kosong itu terasa lebih kuat. Rasa kosong yang sebenarnya telah lama dia kenal. Mungkin lebih baik demikian.

Dia mengambil rokok yang di dapat dari Ecnahc Dnoces. Dia meraba jasnya mencari korek api, dia tidak menemukannya. Yang ada hanyalah kartu dari Ecnahc Dnoces.

“Untuk rokoknya bayarannya adalah korek apimu. – Datang lagi ya.”

“Dasar Sialan! Untuk apa rokok tanpa Korek.”


ARC BERAKHIR

Wednesday, March 29, 2017

Ecnahc Dnoces: Kesempatan Kedua



(Workshop Street, Michigan – 12 Maret 2011)

Seorang pria muda berkacamata, dalam balutan jaket kulit warna coklat tiba di gerbang Workshop Street. Ia tampak menggenggam tangan sesorang anak lelaki berusia 10 tahun. Pandangan anak itu tidak fokus, lidahnya tebal dan menjulur keluar, menyiratkan ada yang tidak beres pada anak tersebut. Anak itu menyeret-nyeret tangannya, “Ayo Pa, ke sana…. Ayo… ayooo!!!!”

Pria muda itu menuruti keinginan anaknya dengan rasa malas. Sebenarnya bukannya ia tidak sayang pada anaknya, bukan pula ia tidak suka jalan-jalan. Tetapi yang ada di kepalanya adalah bagaimana ia melunasi setumpuk hutang yang menumpuk untuk biaya pengobatan semenjak kelahiran anaknya yang ternyata …. autis ini.

Selama 10 tahun masa perkawinannya secara umum sebenarnya membahagiakan. Tetapi kehadiran anaknya yang tunggal namun autis membuatnya harus selalu mengeluarkan biaya ekstra untuk pendidikan khusus bagi anaknya. Ditambah akhir-akhir ini istrinya sakit-sakitan dan karirnya yang terhenti hanya sebagai guru tidak tetap di sebuah SMA membuatnya tidak punya pilihan lain selain berhutang. Tumpukan hutang yang semakin menggunung ditambah teror dari para debt collector merasa menjadi orang paling malang di dunia.

Dipandanginya arloji emas, hadiah dari ibunya saat pernikahan dahulu. Arloji itulah satu-satunya benda berharga yang masih menempel di dirinya selain 2 lembar 50 dolar yang tersimpan dalam dompetnya yang telah tipis karena digerus arus pengeluaran yang tidak terkontrol.

Pria muda itu melihat sebuah tulisan di antara ramainya hiruk pikuk saat itu : “ECNAHC DNOCES”.

“Ah,  aku menemukannya ….” Katanya yang langsung disambung dengan kebisuan sementara anaknya menarik-narik bajunya sekali lagi.

Pria muda itu berpaling ke anaknya lalu menuntun anaknya ke sebuah toko jajanan yang menjual aneka snack dan di sana ia berkata kepada anaknya, “Apa pun yang terjadi tetaplah disini. Ayah ada urusan sebentar.”

“Hummp... Ya deh” jawab anak itu sambil melongo.

Pria muda itu segera berlari ke arah Ecnahc Dnoces berada dan dengan terburu-buru ia membuka pintu kaca itu.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pria berjas hitam dengan ekspresi dingin dan menakutkan dari balik meja resepsionis.

“Errr, iya. Apa benar ini Ecnahc Dnoces? Saya hendak menukarkan sesuatu sesuatu,” jawab pria muda tersebut.

“Apa yang hendak kau tukarkan, Tuan?” tanya seorang wanita yang tiba-tiba saja keluar dari belakang.

Wanita itu tampak sangat cantik di mata pria itu. Wanita itu berwajah Eropa degan rambut hitam khas Asia. Pakaiannya yang merupakan kombinasi seragam sekolah ala jepang dan kostum Grup Idol. Membuatnya tampak mirip personel AK*48

“Err, ya. Saya hendak menukarkan ini,” kata pria muda itu sembari melepaskan arloji emasnya.

“Anda yakin Pak? Oh ya saya bicara dengan Bapak siapa?” tanya pria yang menjadi resepsionis itu masih dengan ekspresi dingin.

“Jack Roberts.”

“Kau bisa menukarkan lebih dari itu Tuan. Dan semakin tinggi nilai yang kau tukarkan semakin besar yang akan kau dapat,” kata wanita itu sambil mengerlingkan mata ke arah pria muda itu.

“Tapi ini adalah benda berharga terakhir yang aku punya,” jawab Jack.

“Ah…ah..ah! Tidak juga, Nak! Kau masih punya harta berharga satu lagi,” celetuk sang resepsionis.

“Apa itu?”

“Istrimu dan anakmu!”

“Istriku? Kau mau jadikan dia pelacur begitu?” seru pria muda itu marah.

“Oh tidak begitu Tuan. Maafkan kata-kata Xeon yang sangat kasar. Tapi tidak ada maksud dari dirinya untuk mencelakai istri dan anakmu. Mari Tuan, duduklah dan minum teh dahulu,” kata wanita muda itu sambil mempersilakan Jack duduk.

Jack duduk dengan muka sebal, sementara Xeon keluar dari balik meja resepsionis ke arah meja tamu.

“Kami akan tukarkan kehidupanmu bersama anak istrimu yang sekarang dengan kehidupan yang lebih baik bila kau tukarkan hidupmu sekarang, Tuan!” kata Xeon.

Sementara itu wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu Jack dan membuat jantung pria muda itu berdebar tidak karuan. Wanita ini sungguh-sungguh membuatnya hampir lepas kendali kalau saja ia tidak ingat janji perkawinan sehidup-semati yang ia buat dengan istrinya dahulu.

“Anda akan mengambil nyawa saya bukan?” tanya Jack.

“Tidak, saya tidak akan mengambil nyawa anda. Nyawa anda juga tidak akan berkurang. Hanya ‘masa kini’ milik anda saja yang anda tukarkan,” jawab Xeon masih juga dengan muka tanpa ekspresi.

“Bagaimana?” tanya resepsionis itu lagi.

“Apa yang akan saya dapatkan jika saya menukarkan ‘masa kini’ saya?”

“Apapun yang anda minta.”

“Termasuk kesempatan kedua?”

“Aw? Apa kesempatan kedua yang dibutuhkan oleh orang seperti anda?” goda si wanita.

Jantung pria itu semakin berdebar tidak karuan, bukan hanya karena tegang akibat konsekuensi yang mungkin akan ia tanggung, tetapi juga karena belahan bukit kembar yang padat dan kenyal serta menonjol dari balik pakaian wanita itu merangsang nafsu kelelakiannya ( Hari ini author agak mesum, yak :v Gak gak, ini karena alurnya memang harus begini).

“Ya, kesempatan kedua juga berlaku. Ceritakan masalah anda!”

“Ah, ya. Saya ini seorang guru SMA. Guru Fisika tepatnya.”

“Oke? Lalu.”

“Tetapi pada masa SMA, saya adalah olimpiadewan fisika yang lumayan handal. Hanya saja… hanya saja… pada babak final olimpiade fisika nasional saat itu…. saya gagal masuk menjadi 3 besar. Saya digagalkan oleh sebuah pertanyaan, perjuangan saya hancur lebur. Semua orang memuja dia, teman baik saya. Segala penghargaan ia dapatkan sementara saya dilupakan. Sementara saya tidak dapat mengikuti olimpiade berikutnya karena saya sudah menginjak kelas 3. Saya terlupakan!!!! Pada masa kuliah pun saya dikalahkan oleh teman-teman yang jauh lebih superior daripada saya!!! Ini tidak adil!!! Saya belajar siang-malam untuk sekedar sejajar dengan yang terendah dari mereka tapi tidak pernah bisa. Saya selalu gagal dalam setiap kompetisi, sementara mereka terus menerus berhasil!!! Kenapa???!!!” cerita pria muda itu berapi-api.

“Dan sekarang, pengabdian saya sebagai guru tidak jua dihargai. Saya tetap saja menjadi Guru Honorer, tidak diberi kesempatan sekali pun menjadi seorang guru tetap. Sementara badai cobaan hidup selalu mendera saya siang dan malam dalam hidup saya yang semakin menyedihkan dari hari ke hari, orang-orang lain dengan kemampuan dan pengabdian yang lebih rendah daripada saya mendapatkan aneka kedudukan dan kemudahan dalam mencari uang. Saya??? Dilupakan sekali lagi!!!!!” lanjutnya masih dengan ekspresi marah berapi-api.

“Oke, saya paham,” kata Xeon, “Manami…!”

“Namaku Visha!!!” jawab wanita itu marah.

“Bodoh, bukannya kau sendiri yang terus merengek untuk dipanggil 'Manami'. Cepat, persiapkan kontrak dan pintunya.”

“Oke bos!!” jawab wanita itu.

(New York – 1 Januari 1980)

Seorang balita berusia 3 tahun tampak bermain dengan spidol di sebuah ruang tamu sebuah rumah sederhana yang terletak di sebuah perumahan.

“Jack, sedang apa kamu?” tanya seorang ibu muda yang membawa sekeranjang pakaian kering ke meja seterika.

“Nyoret!” jawab anak itu cuek.

“Hah, apa sih?” tanya ibunya lagi sembari menghampiri anaknya itu.

Si anak menunjukkan hasil coretannya ke hadapan ibunya dan jantung ibu muda itu hampir saja berhenti karena sangat kagetnya. Pada lantai yang telah penuh oleh tulisan itu terdapat kalimat-kalimat berikut :

1. W= 2000 N

F = 400 N

Panjang lengan beban (lb) = 3 m

Panjang lengan kuasa (lk­) = M

Maka M= ….

Jawab : W x lb = F x M

2000 N x 3 m = 400 N x M

6000= 400M

M = 60/4

M = 15 meter



2. Posisi awal batu= 30 meter di atas tanah

Posisi saat ini = 20 meter di atas tanah

Massa batu = 400 gram

Kecepatan batu saat ini =…..

Jawab : EP(1) = m.g.h

= 0.4 x 10 x 30

= 4 x 30

= 120 Joule

EP(2) = m.g.h

= 0.4 x 10 x 20

= 4 x 20

= 80 Joule

EK = EP(1)-EP(2)

½ .m.v2 = EP(1)-EP(2)

½ x 0.4 x v2 = 120-80

0.2v2 = 40

v2= 800

v = 20 m/s



"..................."



“Ini… ini….!! Dari mana kamu belajar hal ini, Nak?”

“Dari buku itu,” jawab anak itu cuek sembari menunjuk sebuah buku yang tergeletak tak jauh di hadapannya.

“Ini buku fisika kelas 2 SMP. Dari mana kamu bisa paham akan hal ini?”

Anak itu hanya diam saja tidak menjawab.



(Youth Arena, Oslo Norwegia – 3 Januari 1990)

“Semoga berhasil, Jack!” kata seorang pria paruh baya berkacamata pada seorang anak lelaki berusia 13 tahun.

“Ingat, kamu harus percaya bahwa kamu bisa!” kata seorang ibu paruh baya pada anak lelaki itu lagi.

“Iya Bu, Yah. Aku pasti akan memenangkan kompetisi ini.”

“Tunjukkan bahwa kita bisa menjadi yang terbaik!” kata pria paruh baya tadi sembari menepuk bahu anak lelaki itu.

“Pasti!” jawab anak itu.



(MIT University, Massachusetts – 4 Februari 1990)

“Pemirsa! Pada hari ini Presiden Amerika, George W Bush akan memberikan penghargaan pada anak ajaib dari New York. Jack Roberts. Pemirsa, apabila anak-anak seusianya biasanya masih duduk di kelas 1 SMP. Jack ini sudah mengenyam pendidikan sebagai siswa kelas 2 SMA. Kejeniusan anak ini pulalah yang akhirnya menghantarkan dirinya menjadi juara 1 Olimpiade Fisika Tingkat Dunia di Oslo, Norwegia pada tanggal 3 Januari yang lalu. Dan seperti bisa anda lihat pemirsa …. Presiden sudah memasuki panggung dan acara akan segera dimulai.”

Setelah pidato dan sambutan yang tidak jelas ujung pangkalnya dari para pembesar akhirnya tampak seorang anak maju ke atas panggung, menerima aneka penghargaan dan piala. Dan tak lupa ucapan selamat dari Presiden Bush.

“Nah, dengan ini tidak akan ada lagi yang akan mengejekku. Tidak akan ada lagi yang namanya kemiskinan. Dan tidak akan ada lagi yang namanya kesusahan. Aku akan menjadi nomor satu!” gumam anak itu dalam hati. Anak itu tak lain dan tak bukan adalah Jack.

Dari antara pengunjung acara itu tampaklah dua orang berpakaian jubah hitam panjang dengan tudung kepala menutupi muka mereka. Mereka adalah seorang pria dan seorang wanita.

“Michael, tidakkah kau merasa bahwa pria itu sudah berlaku curang?” tanya seseorang kepada seseorang.

“Maksudmu, Gabriel?” tanya pria itu.

“Ia minta kembali menjadi seorang anak dengan kemampuan yang setara orang dewasa. Dengan begitu ia bisa menjadi nomor satu di bidangnya. Tidakkah itu tidak adil bagi anak-anak yang lain?”

“Itu bukan urusan kita Gabriel. Itu urusan Xeon dan Ecnahc Dnoces-nya.”

“Mereka merusak hukum alam Michael! Merusak takdir pria itu.”

“Semua terjadi karena ijin-NYA, Gabriel. Apa kau lupa? Tugas kita disini hanya mengawasi saja.”

“Kau ini ….”

“Ah, Sebaiknya kita kembali.”

“Dengarkan aku dulu… hei Michael!!!!”

“Xeon dan Visha akan mengurus orang itu. Hal duniawi bukanlah urusan kita.”

Kedua sosok itu pergi meninggalkan acara itu tanpa ada satupun orang yang menyadarinya.



(International Physics Conference, Manila– 12 Juli 2000)

Ini adalah suatu konferensi di mana seluruh ahli fisika berkumpul untuk saling berdiskusi dan bertukar ilmu dalam bidang fisika. Tema yang dibahas dalam acara ini adalah laser.

“Saya sangat menunggu-nunggu simposium tentang laser sejak 2 tahun yang lalu, Prof Albert, bagaimana menurut pendapat anda mengenai penggunaan laser dalam kedokteran untuk memotong tumor?” tanya seorang pria Turki bersorban dalam balutan jas abu-abu kepada seorang pria botak berkulit pucat.

“Saya rasa hal itu sudah umum dibahas di simposium fisika 3 bulan lalu di Swiss, Tuan Mustafa. Saya lebih tertarik pada karya Doktor Asia itu,” jawab Albert.

“Doktor Roberts? Oh ya dia sangat hebat, penelitiannya soal sinar gamma untuk memperceat pertumbuhan pohon-pohon berkayu keras benar-benar revolusioner!! Berapa usianya?”

“Saya dengar ia baru berusia 23 tahun.”

“Waow, luar biasa!!!”

****

Sekarang … mari kita sambut presentator kita dari Amerika, Doktor Jack Roberts.”

Seluruh hadirin bertepuk tangan menyambut majunya Jack yang naik ke podium dan mulai membacakan makalahnya.

“Saudara-saudari….,” katanya membuka presentasinya.

“Hidup kita dan seluruh makhluk hidup di bumi ini bergantung kepada oksigen dan air. Dua elemen ini adalah elemen tervital dalam kehidupan kita. Selama ini hutan dengan aneka pepohonannya mencukupi kebutuhan kita akan dua hal itu saudara-saudari. Namun penebangan liar merusak semuanya dan kita tidak pernah cukup cepat dalam merestorasi alam kembali. Pepohonan tumbuh dalam waktu yang lebih lama daripada umur kebanyakan manusia, perlu belasan bahkan puluhan tahun untuk menghijaukan kembali hutan yang telah gundul, sementara itu kita harus terus menggunduli hutan karena kebutuhan kita akan laham, kertas, damar, mebel, dan hasil hutan lainnya. Itu semua tidak terelakkan. Tapi kini … saya menawarkan suatu solusi baru : radiasi sinar gamma dengan intensitas tertentu dapat mempercepat pertumbuhan tumbuhan berkayu keras. Penemuan ini saya kembangkan bersama dengan Doktor Profesor B.J Habibie, Ilmuan dari Indonesia yang sayang sekali tidak dapat hadir di sini. Tapi yang pasti dengan penemuan ini kita dapat mempercepat pertumbuhan pohon menjadi 10 sampai 15 tahun lebih cepat. Sebatang tanaman muda katakanlah berusia sebulan yang disinari terus menerus selama seminggu akan tumbuh menjadi layaknya tanaman berusia 8 bulan.”

“Penemuan ini belumlah sempurna saudara-saudari, karena itu saya mengundang rekan-rekan ilmuwan ataupun para investor yang berminat bergabung dengan kami untuk mengembangkan teknologi ini, kami akan menerimanya dengan senang hati. Adapun konsep dasar dari penyinaran ini adalah … bla..bla…bla…!” Jack terus melanjutkan ceramahnya dengan menjabarkan perumusan ilmiah untuk penemuannya.

Sesudah ia selesai dengan ceramahnya, suatu tepuk tangan meriah mengiringi turunnya Jack dari podium kembali ke tempat duduknya. Seluruh hadirin kagum akan kegemilangannya dalam meneliti dan berbicara di hadapan banyak orang. Ia telah bertransformasi menjadi seseorang yang dipuja dan dicari. Jauh berbeda dari kehidupannya yang sebenarnya.

(Workshop Street, Michigan – 12 Maret 2011)

Doktor Jack berdiri di depan tempat itu, tempat yang sama seperti yang ia temukan di kehidupannya pada hari yang sama namun dengan dimensi yang berbeda. Ia langkahkan kakinya memasuki tempat itu dan di sana kembali ia temukan seorang pria berjas hitam dan seorang gadis muda berbalut seragam SMA jepang.

“Ah, saudara Roberts. Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya Xeon.

“Begini Mas... Hidupku memang jauh lebih baik sekarang tapi yang aku tanyakan ke mana perginya anak istriku? Kenapa aku tak pernah bertemu mereka lagi?”

“Kau sudah menukarkan masamu bukan?”

“Aku memang sudah menukarkan masaku. Tetapi bukankah hanya masa yang tukarkan, bukan istri dan anakku!”

“Sabar, Tuan!” kata Visha.

“Bagaimana aku bisa sabar. Sekarang juga katakan di mana istri dan anakku!” bentak Jack.

“Jaga bicara anda Tuan!” kata Visha dengan Psy Ball di kedua tangannya dan matanya yang mengeluarkan sinar putih.

“Woah?” seru Jack terkejut.

Pria berjas yang tak lain adalah Xeon itu datang menghampiri si gadis lalu memegang pundaknya, “Visha, jangan menggunakan kekuatan mu sembarangan!”

Gadis itu menurut namun tampak sekali ia melakukannya dengan terpaksa karena ia langsung merengut sebal. Pria itu mendekati Jack lalu mengulurkan tangannya, “Mari! Akan saya tunjukkan di mana anak dan istri anda saat ini.”

Jack menyambut tangan pria itu dan dalam sekejap mereka sudah menghilang dari tempat itu.

“Itu istrimu!” kata Xeon.

“Eh?” Jack terkejut melihat istrinya hidup bersama pria lain,

“Tapi… kenapa?” tanya Jack lagi

“Kau sudah korbankan masamu bukan? Masa di mana kau hidup dengan anak dan istrimu. Maka dari itu istrimu dan kamu tidak akan pernah bertemu lagi. Kecuali jika kamu melakukan transaksi lagi,” jawab Xeon.

Kabut putih menutupi Xeon dan Jack dan mereka kembali ke Ecnahc Dnoces.

“Bagaimana Tuan? Anda mau bertransaksi lagi?” tanya Visha manja.

“Dan apa harga untuk sebuah masa yang harus kubeli kembali?” tanya Jack.

“Err, biar aku lihat dulu. Ooo untuk setiap jam dari masa yang hilang kau harus membayarnya dengan masa hidupmu selama setahun. Dan kalau boleh jujur Tuan, kau tidak punya masa hidup sepanjang itu. Tapi itu terserah padamu. Hahaha.”

“Kalian… kalian.. bajingan.”

“Bukankah kau dapatkan apa yang kau inginkan, kau menikmatinya, dan selama masa tenggang pembatalan transaksi kau tidak juga membatalkan transaksi. Jadi kalau kau sekarang mengalami hal ini, itu tidak lebih dari kesalahanmu sendiri. Hahaha.”

“Tuan, kalau anda hendak bertransaksi lagi, silakan bertransaksi lagi. Tetapi jika anda hanya hendak menggerutu akan nasib yang anda buat sendiri… silakan keluar dari sini sekarang juga!” kata Xeon dingin.

“Aduh Xeon, kau ini kasar sekali sama pelanggan. Ramahlah sedikit! Tapi… Hahaha aku lupa kalau kamu sudah tidak punya emosi,” kata Visha.

“Jadi kalian mau membantu saya atau tidak?” tanya Jack.

“Tidak…” jawab Xeon.

Wajah Jack merah padam dan dengan penuh kemarahan ia membuka pintu kaca itu lalu membanting pintu itu dengan keras sehingga menarik perhatian penjual dan pengunjung di sekitar tempat itu. Tetapi dalam sekejap timbul dalam benaknya untuk menukar masanya kini dengan masa aslinya terdahulu. Ia tidak peduli lagi dengan ketenaran ini, ia rindu akan istrinya yang lemah lembut dan pandai memasak, ia rindu akan putranya yang meski idiot sangat menyayanginya. Ia bersedia menukarkan apapun bahkan usianya untuk mendapatkan kembali masa itu. Namun ketika ia berbalik menatap tempat itu untuk kembali ke dalamnya…. TEMPAT ITU TELAH MENGHILANG.

“Tidaaaakkkkk!!!!!” jerit pria muda itu histeris di tengah-tengah area Workshop Street.


ARC BERAKHIR

Friday, March 24, 2017

Ecnahc Dnoces: Meeting Forest




Jepang, 14 April 1995...
Disana pemuda kurus itu berdiri tegap. Sepertinya, dia sedang kebingungan. Otaknya benar-benar telah kehabisan akal. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja dia berada di tempat gelap. Selain gelap juga tak ada apa-apa disana. Kosong, begitu hampa Masih ada satu keanehan lainnya. Meski gelap, tapi kenapa dia masih saja bisa melihat tangannya?

Sebelum akhirnya, otaknya bisa menjawab kejadian tak masuk akal tadi. Dia dikejutkan lagi oleh seberkas cahaya putih. Lalu, seberkas cahaya itu perlahan-lahan berubah menjadi air terjun. Pohon-pohon juga mulai tumbuh cepat disana. Suara kicauan burung mulai terdengar. Cahaya dihadapan air terjun juga muncul. Perlahan-lahan berubah menjadi seorang wanita.

“Hai, kemarilah. Bermainlah denganku. Aku begitu merindukanmu.” sapa gadis itu dengan lembut.

“Sepertinya, aku mengenalmu. Tapi, siapa kau?” teriak lelaki kurus itu sambil berlari dan terus mendekat.

Dia begitu penasaran apa sebenarnya yang terjadi. Bahkan, dia merasa tak pernah mengenal wanita itu. Dia terus saja berlari dan berlari. Semakin dekat dan semakin dekat. Membuatnya ingat akan mantan pacarnya. Belum lagi, wanita itu memakai pakaian putih. Putih menjadi warna kesukaan mantan pacarnya sejak dahulu. Hal itu membuatnya semakin yakin.

“Are, Apa kau telah melupakanku? Apa kau tidak ingat ini?” Kata wanita itu sambil menunjukan selembar daun.

“Hinami, jadi ini benar-benar kau?” Kata lelaki itu..

Sesaat kemudian, dia telah berada dibelakang wanita yang bernama Hinami. Begitulah, yang terlintas di pikirannya. Nafasnya memburu liar dan perlahan-lahan kembali normal. Tubuhnya yang semula merunduk. Kini, dia tegapkan kembali.

“Ya, begitulah, Jun” Kata Hinami sambil berbalik badan dan tersenyum.

“Hinami” kata Jun dengan mata berkaca-kaca.

Mereka berdua kini tlah berpelukan, hal itu memang sudah tak dapat dihindari lagi. Jun mulai mengeluarkan tangisnya. Begitu lama, dia menantikan hal seperti ini terjadi. Walaupun dia tahu keinginannya, mustahil untuk di capai. Bahkan, kalaupun dia berdoa pagi hingga malam. Itu semua tidak akan terkabulkan.

“Ano ne... Sudah lama, kita tak bertemu. Semenjak kejadian hari itu.” Kata Hinami mulai terisak-isak.

“Sudahlah, aku tak ingin membahas kejadian itu.” Kata Jun sambil melepaskan pelukkannya, tangannya berusaha menghapus air matanya.

“Benar, kalau di ingat-ingat kejadian itu begitu memilukan. Sekarang bagaimana? Kalau kita mencari tempat untuk bercerita-cerita tentang pengalaman kita.”

“Ide yang bagus bagaimana kalau dibawah pohon Sakura itu saja.” Tunjuk Jun.

“Baiklah, aku setuju” Kata Hinami tersenyum dan lalu menghapus air matanya.

Mereka mulai melangkah menuju pohon besar itu. Mereka tak banyak berbicara. Hanya sesekali menebarkan senyum. Sesekali juga mereka menukar pandang. Terkadang mereka hanya melihat sekitar. Menikmati derunya suara air terjun. Suara gesekan daun dan angin. Rumput yang bergoyang. Awan cerah yang begitu biru.

“Ah sudah, sampai” Kata Jun memecah keheningan diantara mereka.

Hinami hanya tersenyum memandang Jun. Mereka lalu membaringkan tubuh mereka diatas rerumputan. Mereka saling memandang.

“Daritadi, aku penasaran. Bagaimana bisa kau bertemu aku? Padahal aku ini sudah meninggal” Kata Hinami penuh tanya.

“Sebenarnya aku bingung harus menjelaskan darimana?” Kata Jun sambil mengaruk-garuk kepalanya.

“Jelaskan saja dari awal kita mengalami kecelakan pada waktu itu.” Saran Hinami.

“Baiklah”.

* * *

Beberapa bulan sesudah Hinami dimakamkan. Jun berjalan sendirian sambil menundukkan kepala. Tampangnya begitu lemas dan lesu. Setelah beberapa bulan ini mengalami Insomnia yang tak bis aia jelaskan. Sebenarnya bukan itu yang menjadi masalah. Dia tidak terima saja akan kenyataan ini. Dia tidak percaya, tahunnya yang dulunya dijalani dengan sukacita. Kini harus dijalankan sendiri. Tanpa, siapa-sipapun yang menyemangati.

“Kini hidupku sebatang kara. Setelah di tinggal Ibu dan Ayah. Kini, aku di tinggal Hinami.” Keluh Jun di dalam hati.

Dia terus saja menahan sedih. Setibanya dia di taman, tempat dimana ia membuat banyak kenangan didalam memorinya. Dia duduk di kursi, dimana tempatnya sepi. Disana, setiap senja dia habiskan waktu untuk menangis. Terkadang juga mengutuk Takdir. Kadang-kadang pula hanya diam merenung.

Sampai suatu hari, dia menemukan sebuah brosur aneh. 'Ecnahc Dnoces' tertulis dalam huruf kapital dengan ukuran besar. Dia tak mempermasalahkan judul brosur itu. Tapi ia sangat tertarik dengan isi brosur itu. Bahkan ia tak sedikit pun bertanya tentang darimana brosur itu.

Ecnahc Dnoces

“Apapun keinginan anda pasti bisa tercapai. Asalkan pertukarannya setara”

Slogan Ecnahc Dnoces.

Brosur singkat yang memang agak memusingkan. Tapi, Jun tak mau mengambil pusing . Padahal hanya niat untuk pergi ke tempat itu. Tiba-tiba saja semua pandangannya menjadi memutih. Tak sampai hitungan detik, lingkungan disekitarnya berubah menjadi sebuah tempat yang familiar dengan toko barang antik, atau mungkin tidak. Karena memang jelas seperti ruangan antah berantah yang dipenuhi benda-benda aneh. Tapi semua itu tak lantas membuat Jun tertarik. Dia hanya ingin satu bertemu dengan Hinami.


Beberapa saat kemudian muncul seorang wanita cantik yang mengaku sebagai Asisten manager. Jun hanya mengiyakan karena dia tak sabar lagi ingin mengapai satu keinginannya. Dari tadi ubun-ubunnya dipenuhi oleh Hinami.

“Ayo, ikutlah denganku.” Kata wanita itu, yang baru saja ia ketahui namanya adalah Visha.

“Oh, jadi begitukah. Keinginan mu ingin bertemu dengan Hinami. Oops, ternyata dia sudah meninggal.” Kata Visha..

Jun merasa heran. Entah kenapa wanita itu bisa mengetahui keinginannya. Padahal ia ingat ia belum mengatakannya sama sekali.

 “Ah, ya silakan isi formulirnya di meja sana. Lalu berikan lagi kepadaku.”

Jun mengganguk dan ikut berbaris dengan rapi. Bisik-bisikan pelanggan yang lain, membuat Jun tahu kalau Visha itu menyeramkan. Ah, maksudnya cepat marah. Walaupun sebenarnya dia tak sabar lagi dan ingin menerobos. Setelah beberapa menunggu, diapun mengisi forlmulir dengan pena berbentuk aneh. Lalu, menyerahkannya kepada Visha.

“Silakan duduk di ruang tunggu.” Kata Visha.

Sekali lagi Jun hanya mengangguk dan menaati perintah Visha.

“Tanaka Jun! ” Kata Visha memanggil nama lengkap Jun.

Jun langsung menuju ke meja resepsionis. Disana, Jun menemui seorang lelaki tampan dengan wajah datar. Dengan sifat yang agak aneh pula. Pria itu sama sekali tak perduli pada pelanggan. Begitulah kira-kira sifat anehnya menurut pemikiran Jun. Xeon, namanya. Begitulah, yang di lihat Jun pada tanda pengenal Xeon.

“Kau menginginkan bertemu dengan kekasihmu yang telah meninggal, walaupun hanya sebentarka?.” Tanya Xeon dengan suara datar.

“Ya.”

“Apakah kau bersedia untuk menukar bakatmu, satu bakatmu artinya kau bisa bertemu dengan kekasihmu hanya lima belas menit.Jadi berapa bakat yang ingin kau tukar?”

“Aku memiliki sekitar delapan bakat. Jadi, aku ingin dua jam.”

“Baiklah, tutup matamu. dan kalian akan bertemu di Meeting Forest”

* * *

“Begitulah kira-kira ceritanya.” Kata Jun.

“Apakah kau tidak menyesal telah membuang bakatmu hanya itu aku?" Tanya Hinami.

“Tidak. Sama sekali tidak. Karena bakat hanyalah salah satu perantara untuk mencapai impian. Tak punya bakat bukan berati tak bisa mencapai impian itu. Karena untuk mencapai sesuatu impian kita memiliki perantara lain yaitu usaha. Satu bakat hilang artinya kita harus berusaha lebih keras daripada sebelum kita mempunyai bakat.”

“Hmmm... rasanya kamu sudah dewasa. Baiklah kurasa waktu kita tidak banyak lagi. Bagaimana kalau kita bermain-main?” Kata Hinami semangat.

“Main? Apa?”.

“Memainkan musik dari daun ini.”

“Tentu.” Jawab Jun mengacungkan jempol.

Mereka lalu memainkan musik dari daun itu. Terkadang mereka bermain kejar-kejaran. Juga terkadang siram-menyiram air. Sesaat kemudian merekapun duduk dibawah pohon Sakura lagi. Sambil bercerita-cerita tentang Kenangan. Tetapi, tidak termasuk kedalam kenangan yang suram.



1 jam lebih 30 menit sudah berlalu...

Tiba-tiba, tubuh Hinami mulai memancarkan sinar terang. Begitupun dengan lingkungan disekitar mereka. Pohon-pohon mulai menghilang. Suara burung dan angin mulai terdengar lirih.

“Sepertinya, waktunya telah tiba.” Kata Hinami. “Selamat tinggal, Jun. Jangan tangisi aku lagi. Karena kehidupan akan tetap berjalan walau tanpa atau hadirnya diriku disisimu.”

Hinami mulai tersenyum dan menahan sedih. Jun membalas senyumnya dengan senyum. Namun seberapa baikpun ia mencoba terus tersenyum, air mata tetap saja keluar

“Selamat tinggal, Hinami. Semoga kau bahagia disana.” Teriak Jun.



"Kamu juga, semoga bahagia dengan kehidupan barumu." Hinami membalas dengan tersenyum.

Merekapun saling bertukar senyum untuk yang terakhir kalinya.

______________________***_______________________ 

"Ahhh... Aku bingung, Xeon." kata Visha disela kesibukan.
"Soal Apa?" Xeon menyahutnya dengan singkat.
"Bukankah dulu kau pernah bilang bahwa kau tidak bisa menggapai dunia kematian? Tapi kenapa kau mampu membawa arwah gadis itu ke Meeting Forest?" tanya Visha dengan panjang lebar.
Xeon menoleh ke arah Visha, lalu berkata, "Mungkin kau memang harus tau. Arwah yang belum bisa di relakan, tidak boleh masuk ke Dunia sana. Jadi, dia menempatkan mereka di Meeting Forest. Tempat dimana orang mati menunggu untuk di ikhlaskan..."

Xeon berhenti sejenak, lalu melanjutkan...

"Tempat ini berada di antara dunia orang hidup dengan orang mati. Artinya, kekuatanku masih bisa menggapai arwahnya selama arwah itu masih belum di genggam oleh-NYA. Begitulah."

"Oh, jadi seperti itu ya." Visha mengangguk mengerti, "Eh, ngomong-ngomong yang kau maksud 'NYA' itu siapa?"

"Ah... dia ya. Dia adalah makhluk yang tidak senang dengan keberadaan kita. Para entitas abadi. Dialah yang manusia sebut dengan sang KEMATIAN." jelas Xeon dengan suara datar.

Mendengarnya, Visha tampak sedikit terkejut. Kemudian mereka melanjutkan pekerjaan.


ARC BERAKHIR

Monday, March 20, 2017

Ecnahc Dnoces: Drawing My [Real]World



Indonesia, 15 Februari 2016...
 
Laki-laki yang percaya bahwa hanya dengan satu sentuhannya saja, dunia bisa ia kendalikan sesuka hati. Mengayun-ayunkan tangannya, menari-narikan jemarinya, ia bisa mengubah dunia dengan mudah. Menciptakan sesuatu, menghapus sesuatu, menodai, menggores, dunia yang ia ubah bisa berupa apapun, sekalipun itu sangat buruk.

Bukan sebuah kekejaman, bukan juga sebuah kearoganan, namun hanya kehendak, itu saja. Hatinya beku, tidak ada yang menghangatkan, sekalipun dirinya sendiri. Ia sudah berulang kali menembus dinding pembatas antara dunia damai dengan dunia kehancuran. Menciptakan dan menghancurkan sesuatu tidak akan menggoyahkan dirinya lagi.

Manusia diciptakan untuk bisa beradaptasi, dan ia sudah terbiasa oleh itu.

Tetapi sekuat apapun manusia mencoba untuk menjadi dingin, jauh di dalam dirinya sesuatu pasti perlahan hancur kelak. Hanya memendam dan meledak ketika tidak bisa ditampungnya lagi. Rasa penyesalan tidak bisa abaikan olehnya, membuat dirinya ingin sekali berhenti. Tidak hanya sekali, ia sudah berkali-kali mencoba untuk berhenti. Namun ia terlambat, kecanduan dalam dirinya tidak bisa hilang begitu saja.

Dan itu terus membuatnya menciptakan dunia, dunianya sendiri.

Ya, dunia ciptaannya berbeda dengan dunia yang ditinggali oleh manusia lain. Sepi, tentram, dan berangin adalah sesuatu yang dirasakan oleh seseorang yang melihat dunianya. Tidak ada siapapun, tidak ada seorangpun, hanya dirinya dan panorama. Menyisakan perasaan yang tidak biasa ketika seseorang selesai melihat dunia itu.

Tidak ada yang aneh, tidak ada pula yang bisa dipertanyakan. Itu hanya khayalan, keinginan semu seorang laki-laki yang lari dari dunia yang sesungguhnya. Meninggalkan semua yang belum dan sudah dicapainya, meninggalkan semua yang ada di sekililingnya, ia memaksa diri untuk tidak merasa membohongi dirinya sendiri. Ya, ia tidak mengakuinya. Bahkan ia menghapus kata-kata “membohongi diri sendiri” dari ingatannya yang samar-samar itu. Ia tenggelam di dalam mimpi.

Ia tidak bisa tinggal di dunia yang sesungguhnya.

Sekuat apapun manusia beradaptasi, jauh di dalam dirinya sesuatu pasti akan hancur. Bagaimanapun juga, dunia yang sesungguhnya bukanlah untuknya, itu yang ia pikirkan. Berlama-lama di tempat itu hanya akan membuatnya perlahan membusuk.

Apapun yang akan diraihnya pasti akan hilang darinya. Itu bukan kegagalan melainkan kesengajaan. Tidak ada yang mengizinkannya untuk mendapatkan sesuatu, sekalipun itu orang terdekatnya. Senyum manis yang ia hadapi bukanlah teman, semuanya adalah ilusi. Itulah yang membuatnya selalu melakukan apa yang ia anggap benar, sekalipun semua orang menentangnya. Ya, ia hanya percaya pada dirinya sendiri.

Tidak ada yang menolong, bahkan tidak ada yang peduli dengannya meskipun hanya satu detik saja. Semuanya acuh, berpikir hanya malapetaka yang akan mereka dapat jika berurusan dengannya. Tanpa disadari tercipta dinding pembatas yang memisahkannya dengan semua orang. Ia sudah dianggap sebagai sesuatu yang berbeda dengan mereka.

Itu bukan salahnya, ia sama sekali tidak bersalah. Bahkan ia tidak pernah membunuh seekor semut sekalipun. Tangannya bersih, belum ada noda satupun yang membuatnya pantas untuk menerima hal menyakitkan itu. Merasa atau tidak, logikanya tidak pernah bisa menerima kenyataan bahwa dirinya pantas menerimanya.

Itu bohong.

Itu omong kosong.

Itu bukanlah keadilan, jauh dari logika.

Ironis, dinding pembatas yang diciptakan oleh semua yang ada di sekililingnya membuatnya nyaman duduk sendirian di sudut ruangan setiap hari. Meski ia memiliki banyak waktu luang di sudut itu, ia tidak pernah bisa menemukan jawaban atas kesalahannya, bahkan ia tidak pernah merasa melakukan sesuatu yang keji. Menyendiri dan berpikir, ia menjalani hidupnya tanpa arah dengan hal yang tidak berguna. Hingga pada akhirnya, ia tahu akar dari semuanya.

Sekali lagi, itu bukan salahnya, ia sama sekali tidak bersalah. Kalaupun memang demikian, lahir di keluarga itu adalah sebuah kesalahan besar. Tidak, jika mereka sanggup lolos. Namun sebaliknya, mereka membuat kehidupan seseorang yang masih bersih dan mungil hancur begitu saja tepat saat ia mulai mengambil nafas pertamanya.

Ia tidak terkutuk.

Ia bukan keturunan iblis.

Ia bahkan tidak meminta hal itu.

Selalu mencoba menjalani kehidupannya dengan sangat baik, ia selalu terjatuh. Bukan karena kegagalannya melainkan karena kesengajaan orang di sekelilingnya. Ia tidak tahu apa-apa, hanya mengerti bahwa hidup memang tidak mudah. Tapi ia keliru, itu bukan karena hidup memang tidak mudah melainkan semuanya membuat hidupnya tidak mudah.

Kepolosannya tidak bisa membuatnya mengerti saat itu, hanya seperti anak domba yang tersesat. Ia hanya bisa menerima semuanya bulat-bulat. Sendirian berjalan, itu sudah seperti bagian dari dirinya. Tidak ada yang menemani, bahkan ia sendiri tidak menginginkan seseorang menemaninya. Ia nyaman sendiri, sekali lagi itu sudah seperti dirinya sendiri.

Ia tidak bisa melupakannya hingga kini.

Mengayun-ayunkan tangannya, menari-narikan jemarinya, ia menciptakan berbagai macam dunia. Tidak hanya malam, apapun musimnya, apapun cuacanya, apapun tempatnya, dengan mudah ia ciptakan selaras dengan nafasnya yang beraturan. Sesuka hati, sebanyak mungkin, hingga ia puas dan masuk ke dalam dunianya tersebut.

Mengunci dirinya dalam-dalam di dunianya tersebut, ia tidak ingin kembali ke masa lalu maupun masa kini. Sama saja, ia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan. Dunia yang sesungguhnya tidak pantas untukknya, itu yang ia pikirkan. Hanya menambah kesedihan dan menanamkan beban yang lebih berat saja, tidak ada gunanya ia berada di dunia yang sesungguhnya. Jadi, ia mencoba untuk memalingkan wajahnya dari dunia itu.

“Ada orang di dalam?”

Suara itu ia abaikan. Ia masih duduk di sudut ruangan dan itu yang selalu ia lakukan. Menatap kosong udara yang ada di ruangan yang sempit, ia seperti tidak bernyawa lagi. Jiwanya mati dan tidak ada yang menolongnya. Bila saja ada cahaya hangat yang menyentuh permukaan kulitnya, mungkin masih ada kemungkinan untuknya tersenyum.

“Halooo, ada orang?” Laki-laki yang dari tadi berteriak dari luar ruangan itu lama-lama mengecilkan volume suaranya. Wajar saja, ia sudah berulang kali berteriak dan tidak ada seorangpun yang menanggapi. Pekerjaan yang saat melelahkan jika berhadapan dengan pemilik ruangan seperti itu. Jadi, itu adalah teriakan terakhirnya untuk ruangan itu.

“Hmmm, percuma, aku menyerah. Lebih baik aku masukkan saja lewat celah di bawah ini.”

Laki-laki itu memasukkan selembar kertas ke dalam lubang yang ada di bagian bawah pintu ruangan itu. Ada sedikit harap darinya untuk tersampaikannya kertas tersebut kepada pemilik ruangan itu. Namun apa boleh buat, jikalau tidak, setidaknya ia sudah mencobanya. Jadi, tanpa pikir panjang laki-laki itu pergi menjauh dari ruangan itu menuju ke ruangan lainnya.

Meskipun sedikit, harapan tersebut terkabul.

Mendengar sesuatu masuk melalui lubang suratnya, pemilik ruangan itu perlahan berdiri. Tatapannya masih kosong, seperti tidak peduli dengan hal tersebut. Hanya saja ia refleks melakukannya karena selama bertahun-tahun tidak ada yang pernah memasukkan sesuatu ke dalam lubang suratnya. Kalaupun ada, itu hanyalah selebaran-selebaran atau lembaran-lembaran iklan tentang suatu produk atau pekerjaan. Itu saja tanpa ada ketukan pintu, bahkan panggilan saja tidak. Jadi, muncul harapan di dalam dirinya akan hal baru ini.

Diambilnya kertas kecil itu dengan mudah meski ruangan itu gelap. Terlihat seperti iklan, hal itu membuat harapan dalam dirinya redup. Hanya sebentar saja ia memfokuskan pikirannya untuk membaca judul dari iklan itu sebelum kemudian melepaskan kembali konsentrasinya. “Ecnahc…” adalah sebuah kata yang pertama kali ia baca, sampai di situ ia sudah tidak mempedulikan kelanjutannya.

Hanya sampah, pikirnya.

Ia membalikkan badan dan berjalan kembali menuju sudut ruangan sembari menatap kosong kertas kecil itu. Lambat dan tidak memiliki determinasi, asalkan pada akhirnya sampai, ia tidak peduli. Ia tidak memerlukan kemantapan diri, determinasi, kepercayaan diri, karena memang semua itu tidak berguna dalam hidupnya. Ia hanya membutuhkan kreativitas, itu saja yang bisa ia pikirkan.

Namun ia berhenti di tengah-tengah ruangan, satu-satunya tempat yang menerima cahaya matahari dari celah-celah atap. Baru saja ia memikirkan suatu hal dan kini ia ingin menarik kalimatnya kembali. Ya, ia membutuhkannya, ia membutuhkan determinasi, kemantapan diri, kepercayaan diri. Kali ini ia memang mendapatkan kertas iklan yang tidak biasa.

Sudah saatnya untuk ia menyambut cahaya matahari.

Untuk orang normal pada umumnya, membawa dompet dan berpakaian rapi adalah hal yang dilakukan ketika meninggalkan rumah. Namun untuknya, ia hanya mengambil sebuah buku coklat tebal yang selalu ada di sisinya itu. Buku yang sudah seperti menjadi bagian dalam dirinya, selalu menopang kehidupannya.

Buku itu adalah Dunianya.

Tidak, tidak ada yang aneh. Ia bukannya tidak normal ataupun sejenisnya. Ia masih normal dan apa yang selalu ia lakukan adalah hal yang biasa saja. Namun, keadaan yang membuatnya melakukan hal yang tidak biasa di mata banyak orang, tetapi masih biasa di matanya sendiri. Itu menjadikannya terlihat berbeda dengan yang lainnya.

Berkeliling tanpa arah membuatnya tersesat. Bahkan ia tidak tahu arah mana ini dan arah mana itu. Ini bukanlah dunianya, ia tidak terbiasa dengan dunia ini lagi. Memaksanya untuk menggunakan intuisinya yang setajam elang, dunia ini sangatlah kejam. Namun itu tidak ia rasakan terlalu lama karena pada akhirnya ia menemukan pintu yang menggantungkan papan yang bertuliskan “Ecnahc Dnoces”.

Tanpa disadari, ia sudah berdiri di dalam ruangan yang cukup luas. Bisa ia lihat seseorang sedang duduk di sebuah kursi hitam yang besar dengan meja kantor yang ada di depannya. Meja itu berantakan. Buku-buku, alat tulis, gelas, semuanya tidak rapi dan acak-acakan. Lebih berantakan daripada ruangan kecilnya yang gelap itu.

Selain hal itu, terasa sangat sepi untuk ukuran ruangan yang cukup luas. Ya, hanya ada seorang laki-laki, meja, kursi, dan sebuah almari. Ia mulai meragukan kantor ini. Kotak tiket pun tidak akan sesepi ini.

“Selamat datang di Ecnahc Dnoces! Ada yang bisa saya bantu?” Tiba-tiba dari belakang ia mendengar suara seorang wanita yang cukup keras, memecah keheningan suasana, dan tentu saja mengagetkannya hingga membuatnya menjauh beberapa langkah.

Dilihatnya pemilik suara itu dengan cermat. Cantik, ramping, dan cukup tinggi, wanita itu terlihat seperti model Korea. Namun ia tidak peduli, bukan itu yang ia inginkan.

“Ah! Dimana sopan santun saya? Perkenalkan, nama saya Visha. Kalau boleh tahu, siapa nama Anda?”

“….”

Laki-laki itu terdiam. Tidak, ia tidak diam karena sengaja atau sejenisnya melainkan karena memang ia sudah lama tidak berbicara, bisu adalah hal yang wajar. Namun ia memiliki akal. Diambilnya pena yang ada di dalam buku coklat tebal yang dibawanya itu dan ia mulai menulis sesuatu. Tidak lama, ditunjukkanya tulisan itu kepada Visha seakan hanya itu saja yang bisa membuat mereka berkomunikasi.

[“…..Kau boleh memanggilku Rio.”]

Itu saja? Pikir Visha.

“Ummm…silahkan duduk di kursi itu, saya akan membawakan Anda beberapa makanan,” ucap Visha sambil menunjuk ke arah kursi yang ada di depan meja kantor itu. Rio tidak merasa ingin memakan sesuatu tetapi terlambat untuk memberitahukannya karena Visha sudah hilang dari ruangan itu sebelum ia sanggup menyelesaikan menulis kalimatnya.

Apa boleh buat, Rio akhirnya duduk di kursi yang disarankan oleh Visha, kursi roda, terasa cukup aneh memang. Di depannya adalah meja kantor, dan di depannya lagi adalah sebuah kursi terbalik yang Rio tahu bahwa ada seseorang yang duduk disitu.

“Maaf membuat Anda menunggu, silahkan.” Visha lagi-lagi muncul dengan tiba-tiba, menyajikan cemilan dan secangkir kopi di meja kantor yang semakin berantakan itu. Kali ini Rio menyempatkan diri untuk menunjukkan kalimat yang tadi ia tuliskan.

[“…Keinginanku bukanlah makanan. Aku tidak memerlukannya.”]

Visha terlihat cukup kaget sebelum kemudian membalas, “Wow, pelanggan yang tidak sabaran. Apakah bahkan dari awal Anda mempercayai Ecnahc Dnoces ini?”

[“…Aku mempercayai apa saja yang aku lihat dengan mataku ini. Aku akan sepakat jika memang keinginanku terkabul.”]

“Sepakat? Bukankah kita belum membuatnya? Kalau begitu, apa yang Anda tawarkan?” tanya Visha lega karena ternyata ada juga pelanggan yang tidak bertele-tele dan mempertanyakan ini itu.

[“…”]

Rio memulainya dengan dialog kosong, sebelum kemudian membalik lembaran itu menuju ke halaman selanjutnya, terus menerus, hingga pada halaman terakhir.

Visha tersenyum. Ia tahu masalah apa yang sedang dihadapi Rio hanya dengan melihat lembaran-lembaran itu. Tidak berlama-lama, ia mendekati kursi hitam besar yang Rio yakin bahwa pasti ada seorang laki-laki disitu. Dan benar saja, kursi hitam itu berbalik dan menghadap ke arah Rio setelah Visha membisikkan sesuatu ke laki-laki itu.

“Beliau adalah manajer Ecnahc Dnoces, Xeon.” Tanpa diminta, Visha memperkenalkan Xeon pada Rio.

“Apakah Anda yakin dengan permintaan Anda?” tanya Xeon tanpa mempedulikan perkenalan itu dan langsung pada inti dari pembicaraan.

[“…Aku tidak pernah seyakin ini. Aku tidak peduli kalau kau menusukku dengan tatapanmu itu asalkan kita sepakat dengan tawaran itu.”]

Bagi Rio, tidak ada kesedihan yang belum ia rasakan. Semuanya sudah seperti makanan sehari-harinya, hingga pada tingkatan ia merasa mual dengan kebasian kesedihan itu. Tatapan tajam hanyalah debu saja di mata Rio.

“Orang bodoh dan pengecut sepertimu lah yang selalu memberikan tawaran yang seperti ini. Tapi aku bahkan tidak peduli. Tawaranmu menarik hingga aku tidak sedetikpun memikirkan siapa dirimu,” ucap Xeon sambil menatap lekat kedalam mata Rio.

[“…Bagus bila demikian, aku pun tidak peduli dengan pendapatmu. Bisa kita mulai sekarang?”]

“Hmmm... sikap yang menarik. Lebih baik secepatnya kita selesaikan transaksi ini, setelah itu enyalah dari sini. Visha!”

“Yap, saya sudah siapkan,” jawab Visha dengan santainya.

[“….Bagaimana kita akan melakukannya?”] Setelah mengisi dan menandatangani formulir, Rio pun sebenarnya penasaran. Sikap Xeon nyata dan tidak dibuat-buat, membuatnya lebih yakin tentang kekuatan tempat ini.

“Maafkan sikap Bos, beliau memang seperti itu. Tapi saya rasa, Anda cukup berani mengambil resiko dengan merubah hidup Anda. Keputusan Anda sendiri itu saja sudah cukup membuat Anda tampak hebat. Ya, saya rasa Anda memang benar-benar hebat,” kata Visha sembari mengambil sebuah bola kaca sebesar kepalan tangan yang berwarna biru menyala, seperti memiliki lampu di dalamnya.

Mendengar itu, mata Rio terbuka lebar. Ini kali pertamanya seseorang memandangnya berbeda. Pada umumnya, semua orang akan meresponnya sama persis seperti Xeon. Tapi…Visha berbeda. Entah mengapa Rio merasa cukup senang meskipun sedikit.

[“…Aku tidak memerlukan simpatimu, tapi…terima kasih.”]

“Anggap saja sebagai salam perpisahan dari saya. Nah, ada pesan-pesan terakhir? Maaf bila terdengar aneh, hehe.”

[“…Tidak ada. Kalaupun ada aku akan mengatakan, ‘Akan berbeda akhirnya jika aku bertemu denganmu lebih cepat, Visha’. Oh ya, nama asliku adalah Andrio, aku harap kau selalu mengingatnya.”]

Rio memandang beda Visha. Cukup jarang ia menemukan orang seperti Visha, terlebih dia adalah wanita. Mungkin tidak bisa mencairkan hatinya, tapi setidaknya Rio sejenak merasakan hangat. Meski itu hanyalah layanan ramah untuk seorang pelanggan, tapi Rio merasa itu sudah cukup menyenangkan. Jadi, memberikan nama aslinya adalah hal yang bisa dilakukannya untuk Visha saat ini, dan mungkin memang hanya itu hingga akhirnya.

“Saya tersanjung. Hum! Saya pasti akan selalu mengingatnya, pasti. Dan untuk yang terakhir, Anda sudah siap?”

Akhirnya Rio tersenyum lepas. Tidak ada penyesalan lagi yang ia rasakan. Keputusannya itu adalah hal yang ia rasa paling baik. Jadi, menghembuskan nafas panjang, ia menulis.

[“…Tidak perlu kau tanyakan lagi.”]

“Selamat tinggal, Andrio.”

Dengan salam perpisahan itu, Visha mengeluarkan cahaya terang dari kedua matanya, sangat terang hingga membuat seakan ada matahari baru di ruangan itu. Rio pun seakan hampir buta karena cahaya itu hingga pada akhirnya, ia mulai mengantuk dan akhirnya tidak sadarkan diri.

[“…….”]

Tidak lama, Rio membuka matanya. Ia terkejut melihat apa yang ada di sekelilingnya. Taman bunga yang cantik dan subur dengan air mancur yang tidak begitu besar namun indah, menciptakan pelangi kecil di atasnya. Beberapa meter dari air mancur, berdiri rumah bercat putih dengan hiasan bunga dan kaca pada lantai dan dinding-dindingnya. Seperti baru, rumah itu seperti sengaja disediakan untuk Rio seorang.

Aku pulang, pikir Rio.

Berlarian di taman bunga, Rio mengejar kupu-kupu layaknya anak anjing. Mengumpulkan beberapa bunga dan mencium wanginya. Tidak hanya itu, ia juga membuat mahkota dengan bunga-bunga itu. Satu, dua, ia membuat beberapa mahkota meskipun hanya ia saja yang ada di taman itu. Namun karena suasana dan keceriaan yang ia rasakan, itu semua tidak masalah untuknya.

Sinar di mata Rio hidup kembali.

Lelah bermain di taman, Rio merasa haus. Ia mendekati air mancur dan baru menyadari bahwa yang ada disana bukanlah air melainkan susu. Dengan cepat Rio meminum air susu itu seakan nyawanya akan terselamatkan bila bisa meminum satu tetes air susu itu saja. Seperti bayi, Rio tidak berhenti minum sebelum ia kenyang.

Setelah lama sibuk meminum air susu, Rio melirik ke arah bagian atas dinding rumah putih miliknya itu. Ada sebuah jam besar yang tergantung disana. Pukul tujuh lewat dua puluh lima menit, sial, aku terlambat sekolah! Pikir Rio.

Rio pun berlari ke jalan dan akhirnya mendapati dirinya sudah berada di dalam kelas mengenakan seragam sekolah. Dilihatnya semua teman-temannya sudah duduk di kursi masing-masing dan seorang guru yang sedang menjelaskan bagaimana cara menggambar dengan prespektif tiga titik mata.

Rio dengan senang hati mendengarkan pelajaran itu karena menggambar, adalah hobinya. Ketika sesi menggambar bebas dimulai, Rio tidak berpikir lama dan segera mengeluarkan buku gambar coklat tebalnya yang sudah lama ia miliki. Membuka lembaran baru, Rio mencoba menggambar pemandangan taman bunga dan rumahnya tadi beserta air mancur susu. Namun Rio berhenti saat ia merasakan ada seseorang yang memandangnya sejak tadi.

Rio menoleh, menemukan seorang cewek manis yang mirip seperti Visha. Cewek itu adalah teman sekelasnya yang kemudian malu-malu mendekatinya dan berkata, “Kau hebat dalam menggambar. Bisa ajari aku?”

Rio tersenyum lebar dan mengangguk.

Menggambar adalah hidup Rio. Ia bisa menciptakan dan menghapus sesuatu sesukanya. Ketika ia menginginkan ini, ia tinggal menggambarnya saja. Ketika ia tidak menginginkan itu, ia tinggal menghapusnya saja. Itu tidak sulit karena Rio sudah terbiasa menggambar sejak kecil. Jadi, menggunakan kemampuannya untuk mendekatkan diri pada salah satu teman cewek adalah hal yang selalu ditunggu-tunggu Rio.

Tersenyum, tertawa, suasana hangat tercipta di antara mereka. Jika ingin digambarkan, mereka seperti sepasang burung merpati yang hinggap di lonceng pada sebuah gereja. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua, kecuali waktu.

Meski sedih dan sepi, Rio terpaksa melepasnya untuk hari ini. Toh mereka pasti akan bertemu lagi keesokan harinya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Ya, mereka bisa terus bersama-sama hingga sekolah selesai dan akan terus bersama-sama bila mereka masih saling bertemu di masa depan.

Ya, masa depan dimana mereka mengucapkan janji sakral di upacara yang sudah ditunggu-tunggu Rio sejak lama. Dipeluknya dengan erat istri pertamanya itu, seakan Rio ingin selalu melekat erat dengan istrinya. Tidak ingin berpisah, Rio selalu melakukan yang terbaik untuk keluarga barunya itu. Menciptakan semua hal yang akan terus bisa membuat mereka selalu bersama-sama.

Hingga masa tua datang, Rio dan istrinya masih tetap bersama. Mereka duduk di beranda dengan tangan yang saling menggenggam. Menikmati suasana taman di sore hari dengan warna oranye yang terus memerah di langit. Menikmati sejuknya angin menjelang malam dan dihiasi oleh hangat genggaman tangan sang istri.

Tidak ada yang bisa menggantikan saat-saat itu. Tidak ada, sekalipun sesuatu memaksanya untuk membalikkan badan dari istrinya, karena ia yakin, istrinya akan selalu berada di sisinya, selamanya. Selama mungkin waktu yang bisa mereka lalui, selama mungkin musim yang bisa mereka rasakan. Berganti, berulang-ulang, dan kembali lagi seperti semula. Begitu terus sampai pada nafas terakhir Rio yang hanya bisa ia hembuskan.

Akhir hidup Rio sudah dekat.

Rio tidak memiliki penyesalan sama sekali. Bahkan ia sangat bersyukur dapat menjalani kehidupannya seindah ini. Memiliki istri yang selalu ada di sampingnya bahkan saat ia menghembuskan nafas terakhirnya. Kebahagiaan yang luar biasa indah, tidak ada orang yang akan mengeluh lagi, tidak terkecuali Rio. Karena memang sudah jelas, semua itu memang sulit untuk didapatkan kecuali melalui mimpi. Akan sangat mudah kita mendapatkan sesuatu melalui mimpi.

Dan itu….adalah mimpi Rio.

“Ah, dia terlihat begitu bahagia,” ucap Visha dengan suara yang lembut karena terbawa suasana melihat senyum Rio yang lebar.

“….”

“Tapi sayang sekali itu tidak berlangsung lama.” Sekejap ekspresi Visha berubah. Alisnya mengerut dan bedaknya luntur karena air matanya yang mulai mengalir.

“Kau salah. Tidak untuk kita, namun untuknya, dia memiliki waktu yang sama seperti yang ada di dunia ini. Dua detik di dunia ini adalah satu tahun di dunianya. Jadi, simpatimu hanya sia-sia belaka.” kata Xeon dengan wajah datar dan nada yang terdengar datar pula.

Melihat bosnya seperti itu, Visha hanya diam saja dan mulai membereskan meja kantor Xeon.

“Waktunya sudah selesai, jiwanya sudah pergi ketempat yang tidak mungkin bisa di capai, bahkan olehku. Lebih baik kau bereskan tubuh itu dan bawa ke ruang yng ada disana. Aku sudah mempersiapkan segalanya disana,” perintah Xeon dengan nada datar.

“Hmmm... Oke Bos,” jawab Visha menurut. Visha kemudian mendorong kursi roda yang Rio duduki ke arah pintu yang ditunjuk Xeon.

Visha hanya bisa mengerutkan alis, merasa kasihan pada Rio. Rio masih bernafas dan tersenyum lebar, seakan itulah ekspresi yang dimilikinya dari awal. Ia terlampau bahagia dalam mimpinya. Tidak ada penyesalan yang tergambar di raut wajahnya itu, membuat Visha merasa sedikit lega.

Secara fisik Rio masih hidup, bahkan hingga ia dimasukkan ke dalam ruang itui. Namun jiwanya tidak ada disana, bahkan di dunia ini. Jiwanya tinggal di dalam mimpinya yang sudah ia lukis sejak lama di buku coklat tebalnya itu. Seperti sebuah cerita yang hanya bergambar saja, Visha bisa mengetahui cerita dari lukisan itu hanya dengan melihatnya saja.

Dari awal saat Rio berada di taman bunga hingga Rio menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman lebar, Visha mengetahui alur cerita gambar itu. Sebelumnya, ia tidak mengerti apa yang diinginkan Rio dari Ecnahc Dnoces ini melihat hanya gambar-gambar saja yang ditunjukkan oleh Rio. Hingga pada akhirnya di halaman terakhir, Rio menuliskan keinginannya.

[“….Ambil ragaku sesukamu dan sebagai gantinya, bawa jiwaku ke dalam mimpi-mimpiku ini selamanya. Karena disitulah duniaku yang sebenarnya, dunia dimana aku bahagia.”]



ARC BERAKHIR
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html